Astra kejar return belasan persen saat saham ambles, andalkan dividen?
Sabtu, 13 Juni 2026
JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII), telah menargetkan total shareholder return (TSR) sebesar low-teens (10-13%) CAGR untuk lima tahun ke depan dalam pengumuman hasil strategic review-nya akhir Mei 2026 lalu.
Ini merupakan acuan kinerja yang sejalan dengan strategi induk Grup Astra, Jardine Matheson, yang menjadikan TSR 5 tahun sebagai salah satu indikator kinerja utamanya.
Jardine Matheson sendiri menguasai ASII melalui Jardine Cycle and Carriage dengan kepemilikan 50,11%.
Konglomerasi asal Hong Kong ini memfokuskan strategi alokasi modal yang optimal untuk tahun-tahun ke depan, memungkinkan pemangkasan aset investasi yang tak memberikan return sesuai target, atau memiliki prospek bisnis yang tak lagi menjanjikan.
Jardine memang tidak menyatakan angka target TSR secara gamblang. Namun, dalam pernyataannya, CEO dan CFO Jardine menyatakan bahwa TSR ASII dalam lima tahun terakhir sejak 2025 berada di atas target grup, yaitu menyentuh 9,8%.
Bahkan, pada tahun 2025, Jardine mengkalkukasikan TSR ASII menyentuh 41,4%.
Namun, harga ASII kini sudah tertekan 30,29% sejak awal tahun 2026 ke level Rp4.740 per lembar pada Jumat (13/6), seiring dengan IHSG yang melemah.
Sebagai catatan, total imbal hasil bagi pemegang saham merupakan kombinasi dari kenaikan harga saham atau capital gain, serta dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Dengan demikian, jika IHSG dan harga sahamnya tak kunjung pulih, ASII berpotensi mendongkrak TSR melalui dividen, yang rasio pembayarannya kini dicanangkan di level 45-50% dari laba bersih tiap tahunnya.
Berdasarkan data IDNFinancials, ASII sebenarnya telah mengikuti guideline pembagian dividen tersebut sejak tahun buku 2024 dan pada tahun buku 2025, yaitu sekitar 48%.
Namun, jumlah dividen cenderung stagnan imbas kenaikan laba tipis 1% secara tahunan pada 2024, bahkan penurunan 3,3% pada 2025.
Di sisi lain, seperti yang diberitakan IDNFinancials sebelumnya, ASII merencanakan buyback jumbo Rp8 triliun untuk setahun ke depan, yang akan mengurangi saham beredar di masyarakat – sehingga berpotensi mendongkrak harga saham dan jumlah dividen.
Dari sisi kinerja Perseroan, manajemen ASII juga menyatakan akan lebih berfokus pada tiga pilar utama bisnisnya, yaitu otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan – yang dipimpin PT United Tractors Tbk (UNTR).
Sementara itu, ASII akan lebih berhati-hati mengembangkan lini bisnis lain selain tiga segmen tersebut. Laporan Stockbit Sekuritas menyebutkan bahwa pengembangan portofolio akan lebih “aktif dievaluasi” agar tetap menopang lini bisnis inti tersebut.
Astra sendiri memiliki tujuh bisnis pilar utama. Selain tiga lini di atas, ASII mengelola lini agribisnis melalui PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), infrastruktur, teknologi informasi melalui PT Astra Graphia Tbk (ASGR), dan properti.
Di sisi lain, ASII juga diketahui berinvestasi di lini bisnis kesehatan melalui PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) dan Halodoc, hingga PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) – yang belum membuahkan akibat rendahnya harga saham emiten ojek online tersebut.
Ke depannya, manajemen menyatakan bahwa aksi merger dan akuisisi juga akan dipertimbangkan lebih matang, dengan memprioritaskan akuisisi dengan tujuan kuasa mayoritas (controlling), atau berpotensi menuju posisi pengendali.
Misalnya, UNTR diketahui telah mencaplok PT Arafura Surya Alam (ARA), pengelola proyek Doup di Sulawesi Utara milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), pada awal Januari 2026 lalu.
Selain itu, ASII juga akan membuat skema remunerasi direksi dalam bentuk saham Perseroan – praktik yang bertujuan menyelaraskan kepentingan pimpinan dan pemegang saham,
Sebagai catatan, kinerja laba bersih dan pendapatan ASII justru ambles masing-masing 16% dan 6% per kuartal I 2026, tertekan tantangan eksternal yang mempengaruhi kinerja UNTR – termasuk penghentian sementara Tambang Martabe serta pemangkasan RKAB tambang 2026. (ZH)