Emiten Haji Isam bidik prospek B50, seberapa kuat fondasi pasokannya?
Sabtu, 13 Juni 2026
JAKARTA – PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), emiten sawit milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, mengungkapkan target kinerja untuk mendukung inisiatif B50 yang digalakkan pemerintah mulai Juli 2026.
Dalam materi Paparan Publik 2026 yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen JARR menyiapkan peningkatan kontribusi penggunaan Crude Palm Oil (CPO) internal dari 17% pada 2025 menjadi 20-25% pada 2026.
Hal ini diproyeksikan dapat menekan biaya pembelian CPO dari luar, sehingga proyek B50 – yaitu campuran 50% CPO dan 50% solar – dapat memberikan hasil optimal untuk kinerja keuangan Perseroan.
Hingga kuartal I 2026, JARR mencatatkan kontribusi 20% CPO internal yang diolah menjadi produk lain termasuk biodiesel, atau sebesar 8,2 ribu ton dari total 41,1 ribu ton CPO yang diolah.
Mengutip CNBC, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah memproyeksikan awal implementasi B50 pada Juli 2026 mendatang, setelah tingkat uji coba keberhasilan mencapai 80-90%.
Untuk mendukung program tersebut JARR juga akan mendongkrak tingkat utilisasi pabrik biodiesel hingga 60-70% pada 2026 mendatang. Pabrik biodisesl Perseroan sendiri tercatat memiliki kapasitas 1.500 TPD.
“Dalam perkembangannya, B50 target yang sering disebut adalah 1 Juli 2026, meskipun pelaksanaannya tetap bergantung pada hasil uji teknis, kesiapan industri, dan aspek pendanaan,” tegas manajemen dalam materi Paparan Publik 2026 tersebut.
Sebagai catatan, JARR diketahui membeli CPO dari tiga pihak berelasinya, yaitu PT Kodeco Agro Jaya Mandiri, PT Multi Sarana Agro Mandiri, dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN).
Piutang usahanya kepada tiga perusahaan tersebut setara dengan 73,62% total beban pokok penjualan JARR per akhir Maret 2026.
Berdasarkan keterangan resmi di BEI, PGUN telah memasok seluruh produksi CPO sebesar 8,4 ribu ton kepada JARR sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Untuk keseluruhan tahun 2026, PGUN sendiri menargetkan penjualan CPO 59,2 ribu ton dengan harga Rp14.500 per kilogram, serta penjualan produk Palm Kernal (PK) sebesar 11,2 ribu ton dengan harga Rp10.198 per kilogram.
Dengan demikian, total target penjualan PGUN di tahun 2026 akan mencapai Rp973,96 miliar, dengan laba di kisaran Rp293,15 miliar – atau margin laba 30,1%.
Di sisi lain, Pemerintah juga telah mengimbau kenaikan harga jual Tandan Buah Segar (TBS) hingga 10% seiring kenaikan harga komoditas CPO. Namun, manajemen PGUN menyambut baik hal tersebut.
“Perseroan mendukung adanya rencana kenaikkan hrga TBS yang ditetapkan oleh pemerintah, hal tersebut seiring dengan pergerakan harga jual CPO yang semakin meningkat,” ujar manajemen dalam laporan hasil Paparan Publik, Selasa (9/6).
Dalam kesempatan yang sama, manajemen PGUN juga telah menargetkan program replanting tanaman di area seluas 2 ribu hektare per tahun, yang dimulai sejak 2025, dengan anggaran Rp118,6 miliar.
Angka ini termasuk ke dalam total anggaran belanja modal (capex) senilai Rp167,61 miliar, yang juga digunakan untuk alat berat, kendaraan, serta mesin dan peralatan senilai total Rp19,96 miliar, dan sisanya untuk inventaris kantor serta bangunan dan infrastruktur. (ZH)