The Fed diprediksi tahan suku bunga, pasar tunggu langkah Kevin Warsh
Minggu, 14 Juni 2026
JAKARTA - Federal Reserve atau The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan pekan depan. Di tengah ekspektasi tersebut, pasar menanti arah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi Amerika Serikat (AS).
Menurut laporan Investopedia yang dikutip pada Sabtu (14/6), pasar keuangan memperkirakan peluang sebesar 96 persen bahwa bank sentral AS tersebut akan mempertahankan federal funds rate pada level saat ini. Perkiraan itu mengacu pada alat FedWatch milik CME Group yang menghitung ekspektasi pasar berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga.
Pertemuan mendatang akan menjadi rapat pertama Federal Reserve di bawah kepemimpinan Warsh. Di luar keputusan suku bunga, perhatian investor tertuju pada bagaimana mantan gubernur The Fed tersebut akan memimpin bank sentral AS memasuki era baru kebijakan moneter.
Warsh mengambil alih kepemimpinan bank sentral AS ketika lembaga tersebut menghadapi tekanan terhadap mandat gandanya, yakni menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan tingkat lapangan kerja yang tinggi. Tantangan itu semakin besar setelah konflik Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi yang lebih persisten serta meluas.
Warsh sendiri belum banyak mengungkap pandangannya mengenai kebijakan moneter sejak Presiden Donald Trump mulai mempertimbangkannya untuk memimpin Federal Reserve tahun lalu. Sebelumnya, ia diketahui mendukung suku bunga yang lebih rendah, sejalan dengan tuntutan Trump yang berulang kali mendorong penurunan suku bunga The Fed.
Meski demikian, belum jelas apakah pandangan tersebut masih bertahan setelah berbagai perubahan kondisi ekonomi dalam setahun terakhir. Pertemuan pekan depan dipandang sebagai kesempatan pertama bagi pasar untuk melihat apakah Warsh masih cenderung mendukung pelonggaran kebijakan moneter atau justru mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati.
Federal funds rate merupakan instrumen utama yang digunakan Federal Reserve untuk menjalankan kebijakan moneternya. The Fed biasanya menaikkan suku bunga untuk meningkatkan biaya pinjaman, mengurangi aktivitas belanja, dan menekan inflasi. Sebaliknya, suku bunga diturunkan ketika ekonomi melemah dan inflasi rendah guna mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat pasar tenaga kerja.
Saat ini, inflasi kembali menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan The Fed setelah konflik Iran memicu kenaikan harga bensin dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketahanan dengan tingkat pengangguran yang berada di dekat level terendah historis.
Kondisi tersebut membuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dinilai masih terbatas. Tim ekonom Wells Fargo Securities yang dipimpin Tom Porcelli menilai peluang pemangkasan suku bunga dapat kembali terbuka apabila Warsh menunjukkan sikap yang sangat dovish. Namun, mereka juga menegaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini serta pola respons Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan hambatan yang cukup tinggi untuk memangkas suku bunga, dikutip dari Investopedia (14/6).
Selain arah suku bunga The Fed, investor juga menunggu bagaimana Warsh akan berkomunikasi dengan pasar. Di bawah kepemimpinan Jerome Powell, kebijakan Federal Reserve jarang mengejutkan investor karena bank sentral biasanya memberikan sinyal mengenai langkah kebijakan berikutnya jauh sebelum keputusan resmi diumumkan.
Namun, Warsh sebelumnya mengkritik praktik forward guidance atau panduan kebijakan ke depan. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membuat bank sentral terlalu enggan mengubah arah kebijakan ketika dibutuhkan respons yang cepat terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Pertemuan pekan depan juga menjadi kesempatan pertama bagi Warsh untuk mengubah pendekatan tersebut. FOMC dijadwalkan merilis ringkasan proyeksi ekonomi kuartalan yang selama ini menjadi salah satu bentuk forward guidance bagi pelaku pasar.
Warsh juga berpeluang mengambil pendekatan berbeda dalam konferensi pers pascarapat. Selain dinilai dapat lebih berhati-hati dalam mengungkap pandangannya mengenai kebijakan mendatang, ia sebelumnya juga mengkritik frekuensi konferensi pers The Fed sehingga tidak menutup kemungkinan jumlah konferensi pers akan dikurangi pada masa kepemimpinannya.
Perhatian pasar juga tertuju pada kemungkinan pengurangan atau bahkan penghapusan unsur forward guidance dalam pernyataan resmi FOMC yang dirilis bersamaan dengan keputusan suku bunga The Fed. Pada masa kepemimpinan Powell, pernyataan tersebut biasanya memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya.
Sebagai contoh, pernyataan terbaru FOMC memuat sinyal tipis bahwa langkah berikutnya kemungkinan berupa pemangkasan suku bunga. Namun, bahasa tersebut diketahui mendapat penolakan dari sejumlah anggota FOMC yang memiliki pandangan lebih hawkish.
Michael Pearce, kepala ekonom AS di Oxford Economics, memperkirakan langkah awal Warsh kemungkinan akan difokuskan pada penyederhanaan komunikasi Federal Reserve melalui strategi "less is more". Menurutnya, perubahan itu dapat terlihat dari pernyataan kebijakan yang lebih ringkas dan memuat lebih sedikit panduan mengenai arah kebijakan mendatang, dikutip dari Investopedia (14/6).
Di luar isu komunikasi, Warsh juga telah menjanjikan "perubahan rezim" di tubuh Federal Reserve. Dalam sidang konfirmasinya, ia mengatakan akan mengubah cara bank sentral mengukur inflasi serta mendorong pengurangan ukuran neraca (balance sheet) Federal Reserve.
Ekonom senior Realtor.com Jake Krimmel menilai perhatian terbesar pasar menjelang pertemuan Federal Reserve pekan depan bukanlah keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal mengenai bagaimana Kevin Warsh akan memimpin Federal Reserve, membangun kredibilitasnya, dan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed pada periode mendatang. (SA)