IPO SpaceX dorong ambisi startup antariksa China masuk bursa

Minggu, 14 Juni 2026

image

JAKARTA - IPO SpaceX senilai US$75 miliar diperkirakan akan mendorong ambisi startup antariksa China untuk melantai di bursa. Keberhasilan SpaceX mengembangkan roket reusable dan jaringan satelit Starlink menjadikan perusahaan milik Elon Musk itu sebagai acuan bagi industri antariksa komersial China.Menurut laporan Reuters (14/6), IPO SpaceX menjadi tolok ukur penting bagi perusahaan antariksa China yang sedang mempersiapkan penawaran saham perdana. Namun, sejumlah analis menilai masih terdapat kesenjangan besar karena banyak startup antariksa China berupaya menuju pasar modal sebelum memiliki pendapatan yang kuat maupun teknologi yang telah terbukti menghasilkan keuntungan seperti yang dimiliki SpaceX.Meski demikian, minat investor terhadap sektor ini tetap tinggi. Salah satu pendiri Lantern Capital, Huang Yan, mengatakan investasinya di LandSpace sejak 2016 kini menghasilkan keuntungan sekitar 100 kali lipat seiring langkah perusahaan tersebut menuju pencatatan saham di bursa. Huang mengaku tetap berinvestasi meski menghadapi keraguan pada tahap awal karena meyakini keunggulan teknologi dan nilai strategis industri antariksa dalam jangka panjang.Setidaknya tujuh perusahaan roket dan satelit China, termasuk LandSpace dan CAS Space, saat ini tengah mempersiapkan IPO maupun pra-IPO. Rincian nilai transaksi belum diumumkan, namun Soochow Securities memperkirakan pasar antariksa komersial China dapat melampaui US$1 triliun pada 2030.Keberhasilan IPO SpaceX tidak hanya ditopang oleh bisnis peluncuran roket. Perusahaan tersebut juga memiliki jaringan internet satelit Starlink, layanan konektivitas langsung ke perangkat, serta ambisi membangun infrastruktur kecerdasan buatan di orbit. Sementara itu, perusahaan-perusahaan antariksa China hingga kini belum berhasil mengoperasikan roket reusable secara penuh.Ellis Scherer dari Information Technology and Innovation Foundation menilai seluruh langkah SpaceX menjadi referensi utama bagi industri antariksa China. Ia mengatakan belum adanya roket reusable yang siap digunakan dalam misi merupakan hambatan terbesar bagi China untuk mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat, dikutip dari Reuters (14/6).LandSpace yang kerap disebut sebagai pesaing swasta China terdekat dengan SpaceX telah melakukan uji coba perdana roket Zhuque-3 pada Desember lalu. Namun, booster roket tersebut gagal menyelesaikan pendaratan terkendali sehingga tidak dapat dipulihkan.Kemampuan mengembalikan, memperbarui, dan menerbangkan kembali booster menjadi faktor utama yang membuat biaya peluncuran SpaceX jauh lebih efisien. Hingga saat ini, teknologi tersebut masih belum terbukti berhasil diterapkan oleh perusahaan antariksa komersial China.Kesenjangan antara SpaceX dan perusahaan antariksa komersial China juga terlihat dari sisi pendapatan. Data yang dihimpun Reuters (14/6) menunjukkan LandSpace membukukan pendapatan sebesar 36,4 juta yuan atau sekitar US$5,2 juta pada semester pertama 2025. Sebagai perbandingan, pendapatan SpaceX meningkat sekitar sepertiga menjadi hampir US$19 miliar sepanjang 2025, dengan sekitar tiga perlima di antaranya berasal dari layanan Starlink.Gabriel Deville dari Novaspace mengatakan terobosan dalam teknologi pemulihan booster dapat membantu mempercepat pengembangan dua proyek konstelasi satelit China yang dirancang menyerupai Starlink, yakni Guowang dan Qianfan atau Spacesail. Saat ini kedua proyek tersebut baru memiliki beberapa ratus satelit di orbit, jauh di bawah Starlink yang telah mengoperasikan sekitar 10.400 satelit.Seorang eksekutif perusahaan antariksa China yang tidak disebutkan namanya memperkirakan skenario paling optimistis adalah China mampu menyamai skala Starlink saat ini pada sekitar 2033. Namun, target tersebut dinilai terus bergerak seiring perkembangan teknologi SpaceX.Menurut Reuters (14/6), tantangan bagi China berpotensi semakin besar apabila SpaceX berhasil mengoperasikan Starship secara penuh. Roket generasi terbaru tersebut mampu meluncurkan hingga tiga kali lebih banyak satelit dalam satu misi dibandingkan Falcon 9, sehingga berpotensi memperlebar kesenjangan antara Starlink dan para pesaingnya dari China secara eksponensial.Selain teknologi, model bisnis SpaceX juga menjadi keunggulan tersendiri. SpaceX menerapkan model vertikal yang memungkinkan Starlink menciptakan permintaan bagi layanan peluncuran roketnya sendiri. Sebaliknya, startup antariksa China masih bergantung pada pesanan dari operator konstelasi satelit yang didukung pemerintah, sementara jadwal pengadaan dan peluncurannya berada di luar kendali mereka.Deville menilai langkah terbesar SpaceX adalah mengalihkan sumber pendapatan dari bisnis peluncuran roket ke layanan internet berbasis konstelasi satelit. Meski demikian, startup antariksa China masih memiliki peluang karena dapat mengambil peran penting dalam pembangunan jaringan satelit nasional China.Permintaan di pasar domestik diperkirakan akan datang dari sektor transportasi, maritim, kawasan industri terpencil, layanan tanggap darurat, hingga negara-negara yang tergabung dalam inisiatif Belt and Road. Namun, dominasi perusahaan milik negara dinilai dapat membatasi lahirnya pesaing swasta yang mampu menyaingi Starlink dalam jangka panjang.Pendiri Orbital Gateway Consulting, Blaine Curcio, menilai ruang bagi operator swasta di sektor telekomunikasi China masih sangat terbatas karena industri tersebut selama ini didominasi oleh perusahaan milik negara. (SA)