UBS pangkas proyeksi harga emas, The Fed diperkirakan longgar 2027

Minggu, 14 Juni 2026

image

JAKARTA — UBS memangkas proyeksi harga emas global sebesar US$300 hingga US$900 per ons. Langkah itu diambil setelah bank investasi tersebut menilai prospek pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

UBS kini memperkirakan pemangkasan suku bunga baru akan berlanjut hingga 2027, di tengah ketahanan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang masih kuat.

Menurut laporan Investing yang dikutip pada Sabtu (14/6), revisi proyeksi harga emas tersebut dipicu oleh kombinasi data ekonomi AS yang lebih solid dan mundurnya ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed hingga 2027. UBS menyebut kondisi tersebut sebagai "double whammy" atau pukulan ganda bagi pasar emas karena mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Dalam catatan yang disusun oleh ahli strategi UBS, Dominic Schnider, Giovanni Staunovo, dan Wayne Gordon, bank tersebut mengatakan bahwa pasar tenaga kerja AS yang tetap tangguh serta kenaikan imbal hasil riil telah mendorong investor mengubah ekspektasi mereka. Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini.

Kondisi tersebut dinilai kurang menguntungkan bagi harga emas. Secara historis, suku bunga yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil riil cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga, sehingga dapat mengurangi minat investor terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.

UBS memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak menuju kisaran US$3.850 hingga US$4.000 per ons dalam jangka pendek. Indikator momentum yang dipantau bank tersebut juga menunjukkan kecenderungan harga emas menuju rentang tersebut.

Selain tekanan dari ekspektasi suku bunga, UBS mencatat bahwa harga emas tidak memperoleh dorongan signifikan dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Respons pasar yang relatif terbatas terhadap eskalasi konflik tersebut mendorong sebagian investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking.

Akibatnya, pergerakan harga emas kembali lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor makro tradisional seperti imbal hasil riil dan pergerakan dolar AS. Pada saat yang sama, kepemilikan ETF berbasis emas tercatat mengalami arus keluar atau outflow dalam jumlah moderat, yang menunjukkan sebagian investor mengurangi eksposur terhadap harga emas dalam jangka pendek.

Meski demikian, UBS menilai posisi investor masih jauh dari level ekstrem sehingga tetap terdapat ruang bagi masuknya dana dan partisipasi investor baru ke pasar emas. Faktor ini dinilai dapat membantu menopang harga emas apabila sentimen pasar kembali membaik.

Walaupun memangkas proyeksi harga emas dalam jangka pendek, UBS tetap mempertahankan pandangan positif untuk 12 bulan ke depan. Dalam skenario dasarnya, The Fed diperkirakan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin pada 2027 di tengah pertumbuhan ekonomi AS yang berada di bawah tren jangka panjangnya.

Selain itu, UBS juga melihat peluang pelemahan kembali dolar AS dalam beberapa tahun mendatang. Prospek tersebut didukung oleh besarnya defisit fiskal dan defisit eksternal yang masih membebani perekonomian AS. Pelemahan dolar biasanya menjadi faktor positif bagi harga emas karena membuat logam mulia lebih menarik bagi investor global.

Permintaan dari bank sentral dunia tetap menjadi salah satu fondasi utama yang menopang harga emas. UBS memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan bertahan di kisaran 750 hingga 1.000 ton metrik per tahun.

Data awal Mei menunjukkan Bank Rakyat China menambah cadangan emas sebanyak 10 ton metrik. Pada periode yang sama, bank sentral Uzbekistan membeli hampir 9 ton metrik emas, menunjukkan bahwa minat institusi terhadap logam mulia masih tetap kuat meskipun harga emas berada di level yang relatif tinggi.

UBS berpendapat bahwa apabila harga emas melemah menuju kisaran US$3.850 hingga US$4.000 per ons, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk menambah eksposur investasi. Menurut bank tersebut, penurunan harga lebih tepat dipandang sebagai kesempatan akumulasi daripada alasan untuk meninggalkan emas sebagai aset safe haven yang kerap digunakan untuk melindungi nilai saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat. (SA)