Harga minyak dunia di bawah US$90, risiko Selat Hormuz mereda

Minggu, 14 Juni 2026

image

JAKARTA — Harga minyak dunia turun tajam pada Jumat setelah pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pelemahan harga minyak dunia terjadi karena pasar menilai risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz belum berdampak pada arus ekspor minyak dari kawasan Teluk, sehingga kekhawatiran terhadap krisis pasokan global mulai mereda.

Menurut laporan Gulf News yang dikutip pada (14/6), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,10% menjadi US$84,99 per barel, sementara Brent melemah 2,97% ke level US$87,70 per barel. Pada saat yang sama, minyak Murban yang menjadi acuan ekspor Timur Tengah ke Asia merosot 3,74% menjadi US$83,99 per barel.

Penurunan harga minyak dunia tersebut menandai perubahan sentimen pasar setelah sebelumnya investor mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Selat Hormuz.

Kekhawatiran terbesar pasar dalam beberapa pekan terakhir adalah kemungkinan Iran mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun hingga saat ini, kapal tanker minyak masih beroperasi normal dan belum ada laporan gangguan ekspor dalam skala besar dari produsen utama kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai menghapus premi risiko geopolitik yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak mentah. Pasar energi umumnya bereaksi terhadap ekspektasi kekurangan pasokan, bukan hanya terhadap gangguan pasokan yang benar-benar terjadi. Ketika investor menilai skenario terburuk belum terwujud, tekanan kenaikan harga minyak pun mulai mereda.

Faktor lain yang menekan harga minyak dunia adalah keyakinan bahwa kapasitas cadangan produksi OPEC+ masih cukup besar untuk menjaga keseimbangan pasokan global. Arab Saudi dan sejumlah negara produsen Teluk dinilai memiliki kemampuan meningkatkan produksi apabila sebagian ekspor Iran terganggu.

Pandangan tersebut mengurangi aksi beli spekulatif di pasar berjangka dan menurunkan kekhawatiran terhadap potensi krisis pasokan minyak global dalam jangka pendek.

Selain faktor pasokan, perhatian investor kembali tertuju pada prospek permintaan minyak dunia. Pasar masih dibayangi perlambatan aktivitas manufaktur di Eropa, pemulihan ekonomi China yang belum merata, suku bunga yang tetap tinggi di banyak negara, serta melemahnya permintaan dari sektor transportasi dan industri.

Prospek permintaan yang lebih lemah tersebut secara alami memberikan tekanan terhadap harga minyak mentah. Ketika pertumbuhan ekonomi global melambat, konsumsi energi biasanya ikut mengalami perlambatan sehingga membatasi potensi kenaikan harga.

Aksi ambil untung juga mempercepat penurunan harga minyak dunia. Sejumlah hedge fund dan investor komoditas sebelumnya meningkatkan posisi beli selama krisis Timur Tengah berlangsung, namun mulai merealisasikan keuntungan setelah harga gagal bertahan di atas kisaran US$90 hingga US$95 per barel.

Level US$90 per barel selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting bagi pasar energi global. Secara historis, harga minyak di atas level tersebut sering meningkatkan kekhawatiran inflasi karena biaya energi yang lebih tinggi dapat menambah beban sektor transportasi, penerbangan, pelayaran, dan manufaktur.

Harga minyak yang tinggi juga dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga. Di sisi lain, konsumen berpotensi mengurangi belanja karena harus menghadapi kenaikan biaya bahan bakar.

Karena itu, kembalinya harga minyak dunia ke bawah US$90 per barel, bahkan menuju level di bawah US$80 per barel, umumnya disambut positif oleh pasar keuangan karena dapat membantu meredakan tekanan inflasi global.

Menurut laporan Gulf News (14/6), koreksi harga minyak menunjukkan bahwa pasar semakin yakin krisis Timur Tengah belum berkembang menjadi guncangan pasokan fisik yang nyata. Fokus investor kini kembali bergeser dari kekhawatiran geopolitik menuju faktor fundamental, yakni kecukupan pasokan, perlambatan pertumbuhan permintaan, dan tetap lancarnya arus minyak melalui Selat Hormuz.

Untuk saat ini, pergerakan harga minyak dunia lebih mencerminkan sikap waspada dibandingkan kepanikan. Arah pasar selanjutnya akan lebih ditentukan oleh kondisi pasokan riil dibandingkan pernyataan politik atau retorika geopolitik.

Pelaku pasar kini mencermati tiga skenario utama. Dalam skenario pertama, apabila ketegangan geopolitik terus mereda dan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz tetap normal, harga Brent berpotensi turun menuju kisaran US$80 hingga US$85 per barel, sementara WTI dapat bergerak ke rentang US$75 hingga US$82 per barel. Skenario ini juga berpotensi mengurangi tekanan inflasi global dan membuat investor kembali fokus pada prospek pertumbuhan ekonomi.

Skenario kedua adalah terjadinya gangguan signifikan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Risiko ini masih menjadi faktor yang paling berpotensi mendorong lonjakan harga minyak. Jika gangguan pasokan benar-benar terjadi, Brent dapat melonjak di atas US$100 per barel, sementara WTI berpotensi naik ke kisaran US$95 hingga US$105 per barel. Harga minyak asal Timur Tengah seperti Murban juga diperkirakan meningkat lebih tajam.

Skenario ketiga adalah kebuntuan berkepanjangan, yaitu ketika ketegangan militer tetap berlangsung tetapi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Dalam kondisi tersebut, Brent diperkirakan bergerak di kisaran US$85 hingga US$95 per barel, sementara WTI bertahan pada rentang US$80 hingga US$90 per barel. Kondisi ini akan mempertahankan premi risiko moderat di pasar tanpa memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan global.

Dalam skenario ekstrem berupa penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama, harga minyak dapat melonjak jauh di atas proyeksi tersebut. Namun kemungkinan itu masih dinilai relatif rendah karena dampaknya akan merugikan tidak hanya konsumen energi global, tetapi juga negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk serta Iran sendiri.

Dengan demikian, arah harga minyak dunia dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz, kondisi pasokan global, serta prospek permintaan minyak dunia di tengah perlambatan ekonomi global. (SA)