Imbas perang Iran, ekspor aluminium China naik 5,68% pada Mei 2026

Minggu, 14 Juni 2026

image

JAKARTA — Ekspor aluminium China melonjak pada Mei 2026 di tengah ketatnya pasokan global yang terganggu akibat perang Iran dan gangguan produksi di kawasan Teluk.

Menurut laporan Mining.com yang dikutip pada (14/6), ekspor aluminium tidak tempa (unwrought aluminum) dan produk aluminium China naik 5,68% secara bulanan menjadi 632.000 ton metrik pada Mei 2026.

Secara kumulatif, ekspor aluminium China sepanjang Januari hingga Mei 2026 juga meningkat 10,4% menjadi 2,69 juta ton berdasarkan data bea cukai.

Kinerja pada Mei tersebut melampaui capaian April yang sudah menjadi level tertinggi dalam setidaknya satu tahun terakhir. Tren penguatan ekspor aluminium China terus berlanjut sejak perang Iran mulai mengganggu produksi dan distribusi aluminium global, sehingga memperketat pasokan di pasar internasional.

Perang Iran dilaporkan merusak dua fasilitas aluminium terbesar di kawasan Teluk yang menyumbang sekitar 8% dari produksi aluminium dunia. Konflik tersebut juga secara efektif mengganggu jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menjadi rute penting perdagangan energi dan komoditas global, dikutip dari Mining.com (14/6).

Dampak gangguan tersebut terlihat pada produksi aluminium primer di kawasan Teluk yang turun menjadi 330.000 ton pada April 2026, level terendah dalam lebih dari satu dekade. Data International Aluminium Institute (IAI) mencatat penurunan sebesar 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara global, produksi aluminium primer juga turun 2,1% secara tahunan menjadi 5,92 juta ton. Di sisi lain, produksi aluminium China justru naik 1,5% menjadi 3,68 juta ton, memperkuat posisi negara tersebut dalam pasar aluminium global di tengah melemahnya pasokan dari kawasan Teluk.

Selain itu, ekspor kawat aluminium stranded China yang biasanya digunakan untuk transmisi dan distribusi listrik juga meningkat pada April 2026. Produk tersebut mulai dialihkan penggunaannya oleh pelaku perdagangan sebagai alternatif ekspor aluminium setelah reli harga dan perbedaan tarif menciptakan peluang arbitrase di pasar. (SA)