China kuasai rantai pasok robot humanoid, Jepang kian tertinggal

Minggu, 14 Juni 2026

image

JAKARTA - China kini menjadi pusat industri robot humanoid dan robotika global, didukung oleh rantai pasok yang terintegrasi, kapasitas manufaktur besar, serta biaya produksi yang terus menurun. Dominasi tersebut membuat perusahaan di berbagai negara semakin sulit membangun robot humanoid tanpa bergantung pada komponen dan pemasok dari China.

Jepang selama puluhan tahun dikenal sebagai pelopor robotika dunia. Lebih dari 50 tahun lalu, para peneliti Jepang memperkenalkan robot yang mampu menggenggam objek dan berjalan dengan dua kaki. Pada 1984, tim peneliti Jepang berhasil menciptakan robot yang dapat membaca partitur musik dan memainkan piano. Ketika Honda meluncurkan robot humanoid pada 2000, banyak pihak menilai Jepang telah mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin teknologi robot dunia.

Menurut laporan The Japan Times (14/6), posisi tersebut kini mulai bergeser. Dalam Humanoids Summit yang digelar di Tokyo bulan lalu, pembahasan utama bukan lagi mengenai keunggulan Jepang, melainkan bagaimana perusahaan-perusahaan Jepang dapat bertahan di tengah dominasi produsen robot humanoid asal China.

Investor mendorong perusahaan Jepang untuk mencari segmen pasar yang masih memungkinkan mereka bersaing tanpa harus berhadapan langsung dengan perang harga. Robot humanoid produksi Unitree Robotics menjadi salah satu sorotan terbesar dalam konferensi tersebut. Bahkan dua perusahaan Jepang menggunakan robot Unitree untuk mendemonstrasikan perangkat lunak yang mereka kembangkan.

Keunggulan China terlihat dari penguasaan rantai pasok robot humanoid. Startup seperti Unitree mampu memproduksi ribuan robot dan menjualnya dengan harga di bawah US$5.000 per unit. Harga tersebut sulit ditandingi oleh perusahaan dari Jepang maupun negara lain.

Jika sebelumnya produsen robot China masih bergantung pada pemasok Jepang dan negara lain untuk komponen seperti sensor dan sambungan mekanis, kini sebagian besar komponen tersebut telah diproduksi di dalam negeri. Kondisi ini membuat China menguasai hampir seluruh mata rantai industri robot humanoid, mulai dari komponen hingga produk jadi.

Kepala Riset Otomotif dan Industri Greater China di BofA Global Research, unit riset milik Bank of America, Ming Hsun Lee, mengatakan bahwa saat ini hampir mustahil membangun robot humanoid tanpa menggunakan komponen dari perusahaan China, dikutip dari The Japan Times (14/6).

Meski demikian, tantangan terbesar industri robot humanoid saat ini bukan sekadar membangun robot, melainkan menemukan penggunaan yang benar-benar bernilai secara ekonomi. Banyak pelaku industri mengakui bahwa kemampuan humanoid saat ini masih jauh dari harapan yang selama ini dibangun oleh industri teknologi.

Sementara dunia menaruh perhatian pada robot humanoid, China juga telah membangun dominasi dalam sektor robot industri yang digunakan untuk otomasi pabrik. Pada 2024, lebih dari 2 juta robot beroperasi di berbagai fasilitas manufaktur China.

Menurut laporan The Japan Times (14/6), sekitar 300.000 robot industri baru dipasang di China sepanjang 2024. Jumlah tersebut lebih besar dibanding total pemasangan robot di seluruh negara lain secara gabungan. Pada saat yang sama, pemasangan robot justru menurun di Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jerman.

Awal bulan ini, regulator China meluncurkan kampanye yang mendorong pemerintah daerah dan perusahaan milik negara untuk mengidentifikasi berbagai penggunaan industri bagi robot humanoid. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan Beijing dalam mempercepat penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor manufaktur.

Keunggulan China dalam industri robotika juga berkaitan erat dengan perkembangan industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Selama bertahun-tahun, pemerintah China membangun ekosistem manufaktur yang mampu memproduksi hampir seluruh komponen kendaraan listrik secara domestik, mulai dari baut hingga baterai lithium-ion.

Kini banyak perusahaan yang memasok komponen kendaraan listrik juga menjadi pemasok utama industri robot humanoid. Lee menyebut perusahaan yang mampu memproduksi komponen otomotif pada dasarnya juga memiliki kemampuan untuk memproduksi komponen humanoid, dikutip dari The Japan Times (14/6).

Tesla turut berperan dalam perkembangan tersebut melalui pabrik besarnya di Shanghai. Jaringan pemasok yang tumbuh di sekitar Tesla kini juga melayani kebutuhan industri robotika. Meski telah membangun rantai pasok terpisah untuk pasar luar China, perusahaan itu masih bergantung pada produsen China untuk setidaknya 70% komponennya.

Pabrik kendaraan listrik milik BYD dan Xiaomi juga menjadi salah satu lokasi pertama yang mulai menggunakan robot humanoid untuk tugas sederhana seperti mengangkut barang dan mendukung aktivitas logistik.

Di Shenzhen, UBTech menjadi salah satu contoh bagaimana ekosistem manufaktur China mempercepat pengembangan robot humanoid. Perusahaan tersebut dikelilingi jaringan pemasok yang sebagian besar sebelumnya memproduksi komponen kendaraan listrik sebelum beralih ke industri robotika.

Chief Brand Officer UBTech Michael Tam mengatakan hampir seluruh komponen yang dibutuhkan perusahaan dapat diperoleh hanya dalam hitungan jam. Banyak komponen diproduksi menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi atau 3D printing.

Tam menggambarkan kecepatan rantai pasok Shenzhen dengan mengatakan bahwa desain yang dikirim pada pukul 09.00 pagi dapat berubah menjadi komponen fisik hasil cetak pada siang hari. Jika satu pemasok tidak memiliki kapasitas produksi, perusahaan cukup menghubungi pemasok lain yang tersedia.

Lebih dari 90% komponen yang digunakan dalam robot UBTech berasal dari perusahaan China. Komponen utama yang masih harus diimpor adalah chip komputer yang digunakan untuk mengendalikan pergerakan robot.

Keunggulan pemasok China juga dirasakan RoboSense, produsen sensor light detection and ranging (lidar) yang mulai memasuki bisnis robotika pada 2024. Wakil Presiden Divisi Robotika RoboSense Yang Xiansheng mengatakan bahwa beberapa tahun lalu perusahaan masih mencari pemasok Jepang untuk mendukung lini produksi otomatis mereka. Namun kini pemasok China menawarkan pilihan yang jauh lebih beragam, dikutip dari The Japan Times (14/6).

Optimisme terhadap masa depan industri robot humanoid tercermin dari derasnya aliran investasi ke sektor tersebut. Investor China menggelontorkan lebih dari US$5 miliar ke startup robot humanoid sepanjang 2025, setara dengan total investasi yang masuk selama lima tahun sebelumnya.

Menurut laporan The Japan Times (14/6), dalam lima bulan pertama 2026, investasi ke industri robot humanoid bahkan telah melampaui total investasi sepanjang tahun lalu hampir US$1 miliar. Lonjakan tersebut menunjukkan keyakinan investor bahwa robot humanoid akan menjadi salah satu wujud nyata penerapan AI yang paling penting di masa depan.

Puluhan startup China kini berlomba memanfaatkan peluang tersebut. Pada Maret lalu, Unitree mengajukan rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Shanghai. Perusahaan itu menyatakan telah melewati proses tinjauan regulasi yang dapat membuka jalan untuk mulai menjual saham dalam beberapa minggu mendatang.

IPO Unitree diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar di China tahun ini. Di saat yang sama, hampir 50 perusahaan robotika lainnya juga dilaporkan tengah menunggu kesempatan untuk mencatatkan saham di Hong Kong, menandakan tingginya minat investor terhadap sektor robot humanoid.

UBTech juga mempercepat ekspansi produksinya. Setelah memproduksi sekitar 1.000 robot humanoid pada tahun lalu, perusahaan tersebut menargetkan peningkatan produksi hingga 10 kali lipat menjadi sekitar 10.000 unit pada tahun ini.

Para pendiri startup dan investor membayangkan robot humanoid suatu hari akan mampu menjalankan pekerjaan berbahaya seperti memantau kebocoran bahan kimia di pabrik atau mengangkut beban berat di lingkungan industri.

Namun kemampuan robot saat ini masih memiliki banyak keterbatasan. Robot humanoid yang sering menarik perhatian publik karena mampu menari secara sinkron dalam berbagai acara televisi di China pada dasarnya hanya menjalankan instruksi yang telah diprogram sebelumnya.

Perusahaan robotika juga masih menghadapi tantangan besar dalam mengembangkan perangkat lunak yang mampu mensimulasikan dunia nyata secara akurat untuk melatih robot berpikir dan bertindak secara mandiri. Untuk kebutuhan tersebut, banyak perusahaan China masih mengandalkan perangkat lunak simulasi milik Nvidia.

Bulan lalu, CEO Nvidia Jensen Huang mengumumkan kemitraan dengan Unitree untuk mengembangkan robot yang menggunakan chip dan perangkat lunak Nvidia guna meningkatkan kemampuan penalaran dan pengambilan keputusan. Robot tersebut diperkirakan mulai tersedia pada Oktober mendatang.

Sebagian besar robot humanoid yang dijual Unitree dalam dua tahun terakhir masih dibeli oleh universitas, laboratorium, dan pusat penelitian yang berfokus pada pengembangan teknologi robotika. Hanya sebagian kecil yang benar-benar digunakan untuk pekerjaan operasional di lapangan.

UBTech sendiri telah menempatkan sejumlah robot di pabrik kendaraan listrik untuk mengangkut kotak dan melakukan pekerjaan manual dasar. Namun produktivitasnya masih jauh di bawah manusia. Saat ini efisiensi robot tersebut diperkirakan baru mencapai sekitar 30% dibanding pekerja manusia. Perusahaan berharap angka tersebut dapat meningkat menjadi 50% pada tahun ini.

Dalam Humanoids Summit di Tokyo, Direktur Unitree Xiaoli Chen mengakui bahwa menciptakan robot yang mampu mengambil keputusan kompleks di lingkungan yang berubah cepat masih menjadi tantangan besar. Menurutnya, meski Unitree telah memperoleh banyak perhatian dan sering tampil dalam berbagai demonstrasi publik, industri robot humanoid masih belum mencapai tingkat produktivitas yang diharapkan.

Dengan dominasi rantai pasok, investasi miliaran dolar, kapasitas produksi yang terus meningkat, serta ekosistem manufaktur yang terintegrasi, China kini menjadi pemain utama dalam industri robot humanoid global. Kondisi tersebut membuat perusahaan di berbagai negara semakin sulit membangun robot tanpa bergantung pada komponen, pemasok, dan infrastruktur industri yang dimiliki China. (SA)