CEO Strategy ungkap 3 alasan di balik penjualan bitcoin
Minggu, 14 Juni 2026
JAKARTA — Strategy (Nasdaq: MSTR), perusahaan yang sebelumnya bernama MicroStrategy, mengungkap tiga alasan utama di balik keputusan jual Bitcoin (BTC) untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Meski melepas sebagian kecil kepemilikannya, perusahaan menegaskan tetap menjadi pembeli bersih Bitcoin dan akan mempertahankan posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
Menurut laporan Yahoo Finance (14/6), Strategy mengumumkan penjualan 32 Bitcoin pada 1 Juni 2026. Langkah tersebut mengejutkan pasar kripto karena perusahaan selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal strategi akumulasi Bitcoin jangka panjang.
Sebelum penjualan dilakukan, Executive Chairman Strategy Michael Saylor sebenarnya telah memberi sinyal mengenai kemungkinan jual Bitcoin pada awal Mei. Namun, realisasi penjualan tetap memicu perhatian luas karena menjadi penjualan Bitcoin pertama perusahaan setelah bertahun-tahun terus menambah kepemilikan aset digital tersebut.
Reaksi pasar pun cukup signifikan. Saham Strategy dilaporkan telah kehilangan sekitar 25% nilainya sejak pengumuman tersebut. Pada periode yang sama, harga Bitcoin juga turun sekitar 15%.
Keputusan jual Bitcoin oleh Strategy turut memicu perdebatan di kalangan pelaku industri kripto. Bahkan, pembawa acara CNBC Jim Cramer menyebut langkah tersebut telah "membunuh" Bitcoin.
Untuk menjelaskan keputusan itu, CEO Strategy Phong Le tampil dalam program CNBC Power Lunch pada 10 Juni. Dalam wawancara tersebut, Le mengungkap tiga alasan yang melatarbelakangi keputusan perusahaan menjual sebagian kecil kepemilikan Bitcoin setelah bertahun-tahun melakukan akumulasi secara rutin.
Alasan pertama adalah untuk membiasakan pasar agar memahami bahwa Strategy bersedia menjual Bitcoin apabila diperlukan. Menurut Le, perusahaan ingin menunjukkan kepada investor bahwa mereka memiliki fleksibilitas dalam mengelola kepemilikan Bitcoin sesuai kebutuhan bisnis.
Alasan kedua adalah untuk menguji proses pembelian dan penjualan Bitcoin yang dimiliki perusahaan. Melalui transaksi tersebut, Strategy dapat memastikan seluruh sistem, prosedur, dan mekanisme operasional terkait perdagangan Bitcoin berjalan dengan baik.
Sementara itu, alasan ketiga adalah untuk menciptakan peluang memanfaatkan kerugian pajak atau tax loss atas Bitcoin yang diperoleh dengan harga pokok tertentu, dikutip dari Yahoo Finance (14/6).
Meski melakukan jual Bitcoin, Le menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak didorong oleh tekanan keuangan ataupun kebutuhan likuiditas perusahaan.
"Kami tidak perlu menjual Bitcoin kami untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen. Kami dapat melakukannya melalui aktivitas penggalangan modal lainnya," ujar Le.
Ia menambahkan bahwa Strategy tetap menjadi pembeli bersih Bitcoin meskipun telah menjual sebagian kecil asetnya. Le juga menegaskan perusahaan akan terus mempertahankan statusnya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
Selain menjelaskan alasan jual Bitcoin, Le turut mengkritik sebagian investor ritel yang ia sebut sebagai "crypto anarchists" atau anarkis kripto. Kelompok tersebut, menurutnya, meyakini Bitcoin harus disimpan selamanya tanpa pernah dijual.
Le menilai pandangan tersebut tidak selalu sejalan dengan realitas perusahaan publik. Menurutnya, Strategy memiliki tanggung jawab kepada para pemegang saham institusional sehingga setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan kepentingan para investor tersebut.
Langkah tersebut menegaskan bahwa meskipun tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Bitcoin, Strategy ingin menunjukkan kepada pasar bahwa perusahaan tetap memiliki fleksibilitas dalam mengelola aset digitalnya sesuai kebutuhan bisnis dan kepentingan pemegang saham. (SA)