Harga Ethereum sulit tembus US$1.700 saat aktivitas on-chain melemah
Minggu, 14 Juni 2026
JAKARTA - Harga Ethereum (ETH) masih kesulitan menembus level psikologis US$1.700 meski menunjukkan pemulihan secara bertahap dalam beberapa hari terakhir. Kripto terbesar kedua di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar itu diperdagangkan di kisaran US$1.688 pada Jumat, setelah mengalami tekanan sejak pertengahan Mei akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian makroekonomi global.
Menurut laporan FXStreet (14/6), pemulihan harga Ethereum saat ini didorong oleh meningkatnya minat beli dari investor yang kembali masuk pada level harga yang lebih rendah. Namun, tren kenaikan tersebut dinilai masih rapuh karena belum didukung oleh peningkatan aktivitas pengguna di jaringan Ethereum maupun arus modal yang kuat.
Data on-chain menunjukkan jumlah alamat aktif yang mengirim dan menerima transaksi di jaringan Ethereum rata-rata mencapai 480.000 pada Kamis. Angka tersebut turun dari sekitar 554.000 pada periode sebelumnya serta lebih rendah dibandingkan rata-rata 678.000 alamat aktif pada akhir Mei dan 738.000 alamat aktif pada 25 April.
Penurunan aktivitas on-chain tersebut menjadi perhatian pasar karena menunjukkan bahwa kenaikan harga Ethereum belum sepenuhnya didukung oleh permintaan riil di jaringan. Jika harga Ethereum terus menguat sementara jumlah alamat aktif tetap menurun, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa momentum kenaikan belum terkonfirmasi oleh aktivitas on-chain dan berpotensi memicu koreksi harga secara tiba-tiba.
Selain aktivitas jaringan yang melemah, pasar derivatif juga mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap prospek Ethereum. Open Interest (OI) kontrak berjangka Ethereum tercatat sebesar US$22,98 miliar pada Jumat, turun dari US$24,40 miliar pada Senin dan US$30,95 miliar pada 1 Juni. Penurunan OI yang berkelanjutan menunjukkan banyak investor belum yakin Ethereum mampu mempertahankan tren pemulihannya sehingga masih enggan meningkatkan eksposur risiko.
Tekanan terhadap harga Ethereum juga datang dari produk investasi berbasis aset digital. ETF spot Ethereum mencatat arus keluar dana sebesar US$16 juta pada Kamis, memperpanjang tren negatif selama tiga hari berturut-turut. Sebelumnya, ETF spot Ethereum mengalami arus keluar hampir US$41 juta pada Selasa dan sekitar US$36 juta pada Rabu, dikutip dari FXStreet (14/6).
Rangkaian arus keluar dana tersebut mengindikasikan minat investor terhadap produk investasi berbasis Ethereum masih relatif terbatas. Data SoSoValue menunjukkan ETF spot Ethereum masih mencatat arus masuk kumulatif sebesar US$11,19 miliar, sementara total aset bersih yang dikelola mencapai sekitar US$9,24 miliar.
Dari sisi teknikal, prospek harga Ethereum masih cenderung bearish dalam jangka pendek. Saat ini, ETH bergerak jauh di bawah Exponential Moving Average (EMA) 50 hari di level US$2.000, EMA 100 hari di US$2.148, dan EMA 200 hari di US$2.405.
Level EMA 50 hari menjadi area resistensi terdekat yang perlu ditembus untuk memperkuat peluang pemulihan harga Ethereum. Setelah itu, EMA 100 hari dan EMA 200 hari berpotensi menjadi area pertahanan penjual yang dapat menjaga tren penurunan dalam jangka menengah hingga panjang.
Sementara itu, indikator SuperTrend masih menunjukkan area dukungan yang menjadi perhatian pelaku pasar. Selama harga Ethereum belum mampu kembali menembus area EMA utama tersebut, potensi kenaikan diperkirakan masih terbatas dan aset kripto ini tetap rentan terhadap tekanan jual lanjutan sebelum mampu membentuk dasar harga yang lebih kuat.
Selain itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di wilayah negatif pada grafik harian, sedangkan Relative Strength Index (RSI) bertahan sedikit di atas level 30. Kondisi ini menunjukkan tekanan bearish masih membayangi pasar meskipun Ethereum mulai menunjukkan upaya stabilisasi setelah sebelumnya berada di area jenuh jual atau oversold. (SA)