Penjualan batu bara susut, BIPI berbalik rugi di kuartal I
Senin, 15 Juni 2026
JAKARTA – PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan kerugian US$73.637 pada kuartal pertama 2026, berbalik dari laba US$3,57 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan, kerugian itu seiring kinerja pendapatan BIPI yang merosot 34,54% secara tahunan menjadi US$47,44 juta pada kuartal pertama.
Penjualan batu bara, yang menjadi kontributor terbesar pendapatan BIPI, turun 43,29% secara tahunan menjadi US$36,88 juta pada kuartal pertama 2026. Kontribusi bisnis ini terhadap total pendapatan perseroan setara 77,7%.
Sementara pendapatan dari segmen lain tetap tumbuh positif, meskipun kontribusinya tidak signifikan.
Pendapatan dari sewa pelabuhan naik 30,98% menjadi US$6,68 juta pada kuartal pertama 2026. Pendapatan dari layanan Coal Preparation Plant (CPP) dan Overland Conveyor (OLC) meningkat 30,73% menjadi US$2,51 juta, sementara pendapatan lain-lain naik 218,60% menjadi US$1,37 juta.
Dari sisi pelanggan, Nghi Son 2 Power Limited Liability Company menjadi kontributor terbesar pendapatan BIPI dengan perolehan US$34,99 juta, setara 73,76% dari total pendapatan pada kuartal pertama 2026.
Sementara itu, PT Arutmin Indonesia menyumbang pendapatan US$9,19 juta atau 19,37% dari total pendapatan. Kontribusi kedua pelanggan terbesar ini setara 93,13% terhadap total pendapatan BIPI hingga akhir Maret 2026.
Berdasarkan data terbaru, PT Indotambang Perkasa menjadi pemegang saham terbesar BIPI dengan kepemilikan 19,39% saham, diikuti CGS International Securities Mauritius Ltd sebesar 12,70% dan PT Bakrie Capital Indonesia 6,73%. Sementara porsi kepemilikan saham publik tercatat sebesar 61,18%.
Berdasarkan keterangan BIPI yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), penerima manfaat akhir dari saham perseroan adalah Halim Jusuf. (KR)