Pasar global sambut damai AS-Iran, minyak jatuh 4,5%

Senin, 15 Juni 2026

image

JAKARTA - Pasar keuangan global merespons positif kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri konflik hampir empat bulan terakhir. Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik menguat tajam pada perdagangan Senin (15/6/2026), sementara harga minyak dunia melemah seiring meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Seperti dikutip Aljazeera, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 5,5%, diikuti Kospi Korea Selatan yang sempat menguat hingga 5,7%. Indeks Taiex Taiwan naik 2,7%, sedangkan ASX 200 Australia menguat sekitar 1,5%. Kontrak berjangka saham Amerika Serikat juga bergerak positif dengan futures S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik sekitar 1% dan 1,8%.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent turun sekitar 4,5% ke bawah US$83,40 per barel setelah pasar memperhitungkan potensi normalisasi pasokan energi global.

“Meskipun pasar telah bereaksi akhir pekan lalu ketika Presiden Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan sudah dekat, konfirmasi aktual memicu reli lebih lanjut,” kata Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh.

Menurutnya, penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi global dan memberi ruang bagi bank sentral untuk lebih fleksibel dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

“Penurunan harga minyak akan memberikan sedikit kelegaan bagi bank sentral di seluruh dunia yang khawatir tentang prospek inflasi. Fokus sekarang beralih ke Federal Reserve AS, yang akan memutuskan suku bunga minggu ini.”

Kesepakatan tersebut diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu melalui media sosial. Trump menyatakan Washington telah menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan serta penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!”

Pernyataan itu kemudian dikonfirmasi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, menyebut penandatanganan resmi kesepakatan dijadwalkan berlangsung di Swiss pada pekan ini.

Meski rincian resmi belum dipublikasikan, sejumlah laporan menyebut kesepakatan mencakup penghentian operasi militer, pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran, serta pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.

Pasar energi tetap memperkirakan proses normalisasi akan berlangsung bertahap. Selama hampir empat bulan terakhir, gangguan di Selat Hormuz menyebabkan pasokan minyak global terganggu dan memicu lonjakan harga energi dunia.

Sekretaris Energi AS Chris Wright memperkirakan pemulihan rantai pasok energi tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat karena masih terdapat hambatan logistik dan keamanan di kawasan Teluk. “Berbulan-bulan.”

Direktur Norwegian Shipowners Mutual War Risks Insurance Association, Svein Ringbakken, mengatakan ribuan kapal masih tertahan di sekitar jalur pelayaran tersebut dan proses pemulihan arus perdagangan memerlukan waktu yang panjang.

“Bahkan dengan kapasitas penuh, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikannya ke kondisi normal.”(DH)