Krisis naphtha ancam pemasangan instalasi AC di Jepang

Senin, 15 Juni 2026

image

JAKARTA - Krisis di Timur Tengah mulai memicu gangguan pasokan naphtha di Jepang dan berdampak langsung pada berbagai sektor industri, termasuk layanan pemasangan pendingin udara (AC) menjelang puncak musim panas.

Kelangkaan bahan baku berbasis naphtha dan lonjakan biaya produksi menekan pelaku usaha instalasi AC. Sejumlah kontraktor bahkan mulai menghentikan layanan pemasangan karena margin keuntungan yang terus tergerus.

"Kami mungkin segera tidak dapat memasang AC," kata Shunsuke Shiina, perwakilan perusahaan spesialis pendingin udara Shiina Denki, usai menyelesaikan pemasangan AC di kawasan Setagaya, Tokyo, pada akhir Mei, seperti dikutip Mainichi.

Menurut Shiina, pasokan pelindung pipa yang terbuat dari material berbasis naphtha semakin sulit diperoleh. Di saat yang sama, produsen juga telah menginformasikan kenaikan harga pipa refrigeran dan kabel listrik sebesar 20% mulai Juni.

Tekanan pasokan datang ketika permintaan AC diperkirakan melonjak menjelang penerapan standar efisiensi energi yang lebih ketat pada musim semi tahun depan. Perubahan regulasi tersebut dikenal sebagai "masalah 2027" dan diperkirakan mendorong masyarakat mengganti unit AC lebih cepat.

Seorang warga berusia 73 tahun yang baru memasang AC mengaku sengaja melakukan pemasangan lebih awal untuk menghindari lonjakan permintaan.

"Untuk orang lanjut usia, sulit melewati musim panas tanpa AC. Saya tinggal di apartemen lama, dan sebuah peritel elektronik besar menolak memasangnya, jadi saya senang bisa melakukannya lebih awal," ujarnya.

Kenaikan harga material sebenarnya telah membebani kontraktor sejak sebelum ketegangan di Timur Tengah meningkat. Namun, gangguan pasokan naphtha memperburuk kondisi yang sudah rapuh.

Salah satu kontraktor listrik di Tokyo mengatakan kenaikan biaya tidak mudah dibebankan kepada pelanggan.

"Jika kami menaikkan biaya pemasangan secara tajam, pelanggan akan pergi. Biaya material naik dan keuntungan turun, sehingga kami keluar dari bisnis pemasangan," katanya.

Ia memperkirakan jumlah kontraktor akan terus berkurang di tengah lonjakan permintaan musiman. Jika pasokan material tetap terbatas, jumlah masyarakat yang kesulitan mendapatkan layanan pemasangan AC berpotensi meningkat tahun ini.

Dampak kelangkaan naphtha juga mulai dirasakan industri perbaikan bodi kendaraan. Pasokan thinner dan cat berbahan dasar turunan naphtha dilaporkan masih tidak stabil.

Ikeuchi Co., perusahaan perbaikan kendaraan yang mengoperasikan lebih dari 30 gerai Ikeuchi Jidousha di Jepang, mengaku sejak April menerima permintaan dari bengkel lain yang tidak lagi mampu menangani pekerjaan akibat keterbatasan bahan baku.

Meski telah menerapkan daur ulang thinner, perusahaan itu hanya mampu memperoleh sekitar 20%-30% dari pasokan normal. Kondisi tersebut memaksa operasional bengkel tetap berjalan di tengah keterbatasan bahan baku.

"Situasi sulit belum berubah, dan prospeknya masih tidak pasti. Tidak jelas kapan hambatan pasokan ini akan teratasi," kata kepala divisi teknologi perusahaan.

Ia memperingatkan semakin banyak pemilik kendaraan berpotensi kesulitan mendapatkan layanan perbaikan jika gangguan pasokan berlanjut.

Masatoshi Kojima, profesor di Momoyama Gakuin University yang meneliti sejarah industri minyak dan sistem distribusi energi, menilai persepsi pemerintah dan pelaku industri terkait ketersediaan naphtha tidak selalu sejalan.

"Naphtha berubah bentuk dan menjadi berbagai macam produk. Ketika dikatakan 'naphtha cukup tersedia', itu merujuk pada bahan baku utamanya. Itu tidak berarti etilena, toluena, dan bahan turunan naphtha lainnya juga tersedia dalam jumlah cukup," ujarnya.

Menurut Kojima, bahan seperti toluena yang digunakan dalam produksi thinner dan cat hanya dapat dihasilkan dalam jumlah terbatas. Selama pasokan naphtha dari Timur Tengah belum stabil, gangguan distribusi dan ketimpangan persediaan berpotensi terus terjadi.

Ia juga mengkritik pendekatan pemerintah yang dinilai terlalu berfokus pada penyelesaian masalah secara parsial.

"Bahkan jika pemerintah merespons setiap masalah secara individual, seperti permainan, mereka tidak akan mampu mengatasi seluruh situasi yang terjadi di lapangan," katanya.

Kojima menambahkan, krisis saat ini kembali menyoroti tingginya ketergantungan Jepang terhadap naphtha.

Selain memperluas sumber pasokan, Jepang dinilai perlu mempercepat pengembangan daur ulang dan penggunaan material alternatif untuk mengurangi risiko gangguan serupa di masa depan.(DH)