El Nino berpotensi dorong harga CPO naik

Senin, 15 Juni 2026

image

JAKARTA - Saham sektor perkebunan diperkirakan mendapat sentimen positif dari potensi cuaca kering akibat fenomena El Nino yang lebih kuat. Kondisi tersebut berisiko menekan produktivitas kebun sawit dan mendorong kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO).

Seperti dikutip Thestar, Kenanga Research menyebut secara historis El Nino cenderung mengerek harga CPO karena gangguan terhadap produksi. Kenaikan harga biasanya mulai terlihat pada paruh kedua tahun saat El Nino terjadi atau lebih sering pada paruh pertama tahun berikutnya.

“Secara historis, El Nino cenderung menaikkan harga minyak sawit mentah (CPO), dengan harga mulai meningkat baik pada paruh kedua (2H) tahun dimulainya El Nino atau, lebih sering, pada paruh pertama (1H) tahun berikutnya.”

Menurut Kenanga Research, pergerakan harga CPO pasca-El Nino sangat bervariasi, mulai dari penurunan sementara hingga lonjakan 10%-40% secara kuartalan pada periode berikutnya.

Namun, dengan harga CPO dan inti sawit yang sudah berada pada level tinggi akibat konflik di Timur Tengah, lembaga riset tersebut memperkirakan kenaikan harga yang lebih moderat.

“Perubahan harga sangat bervariasi, mulai dari penurunan awal antar kuartal hingga lonjakan 10% hingga 40% pada kuartal-kuartal berikutnya.”

Kenanga Research memperkirakan harga CPO berpotensi naik sekitar 5%-10% dari level saat ini. Sejalan dengan itu, proyeksi harga CPO untuk 2026 dinaikkan 4% menjadi RM4.400 per ton dari sebelumnya RM4.250 per ton. Sementara proyeksi 2027 direvisi naik 6% menjadi RM4.450 per ton dari RM4.200 per ton.

“Kami menaikkan perkiraan harga CPO tahun 2026 sebesar 4% dari RM4.250 menjadi RM4.400, dan sebesar 6% dari RM4.200 menjadi RM4.450 pada tahun 2027.”

Meski sebagian dampak El Nino yang kuat telah tercermin dalam harga saham saat ini, Kenanga Research menilai masih terdapat ruang untuk revisi kenaikan proyeksi harga maupun valuasi emiten perkebunan apabila kondisi cuaca memburuk.

Lembaga riset tersebut mempertahankan rekomendasi "overweight" untuk sektor perkebunan dengan tiga saham unggulan yakni IOI Corp Bhd, Kuala Lumpur Kepong Bhd (KLK), dan TSH Resources Bhd yang seluruhnya mendapat rekomendasi "outperform".

Selain itu, PPB Group Bhd dan United Malacca Bhd juga dinilai menawarkan valuasi yang menarik dengan rekomendasi serupa.

Untuk IOI Corp, Kenanga Research menetapkan target harga RM4,65. Perseroan dinilai berada di jalur yang kuat untuk menutup tahun buku yang berakhir pada 30 Juni 2026 dengan kinerja yang solid, didukung tingkat pengembalian ekuitas yang tinggi serta eksposur pendapatan yang relatif terbatas dari Indonesia.

Sementara itu, KLK memperoleh target harga RM25,20. Menurut Kenanga Research, laba perusahaan lebih sensitif terhadap pergerakan harga CPO karena kontribusi bisnis hilir yang minim. Meski demikian, saham KLK masih diperdagangkan pada valuasi diskon dibandingkan perusahaan perkebunan besar lainnya.

Untuk TSH Resources, target harga ditetapkan pada RM1,60. Perusahaan tersebut dinilai menjadi pilihan murni untuk mendapatkan eksposur terhadap kenaikan harga CPO karena fokus pada bisnis hulu dan masih menjalankan ekspansi jangka panjang.(DH)