Defisit fiskal AS dorong suku bunga naik, beban rumah tangga melonjak
Senin, 15 Juni 2026
JAKARTA - Dampak utang pemerintah Amerika Serikat tidak lagi menjadi persoalan jangka panjang semata. Defisit fiskal yang terus membengkak kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan biaya kredit rumah, pinjaman kendaraan, hingga kartu kredit.
Seperti dikutip TheAtlantic, berdasarkan analisis The Budget Lab di Yale University, berbagai kebijakan pengeluaran pemerintah sejak 2015 telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) hampir satu poin persentase. Kenaikan tersebut turut meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan pelaku usaha.
Bagi pembeli rumah dengan harga median tahun lalu dan tenor kredit 30 tahun, kenaikan suku bunga jangka panjang diperkirakan menambah biaya pinjaman sekitar US$2.500 per tahun atau mencapai US$76.000 selama masa kredit.
Tekanan biaya juga dirasakan pada sektor lain. Dibandingkan kondisi tanpa perubahan kebijakan fiskal selama satu dekade terakhir, biaya bunga pinjaman kendaraan rata-rata meningkat sekitar US$120 per tahun, sementara bunga pinjaman usaha kecil bertambah sekitar US$770 per tahun. Suku bunga kartu kredit juga masih berada di dekat level tertinggi.
Meski isu keterjangkauan biaya hidup menjadi perhatian utama masyarakat, upaya pengurangan defisit anggaran belum menjadi fokus utama para pembuat kebijakan. Padahal, penurunan defisit dinilai dapat membantu menekan biaya pinjaman yang ditanggung masyarakat.
Pada dekade 1990-an, Kongres dan Gedung Putih berhasil menurunkan defisit melalui kombinasi pengurangan belanja dan peningkatan penerimaan negara. Langkah tersebut tercatat mampu memangkas biaya pinjaman rumah tangga sekitar 0,6 poin persentase.
Secara ekonomi, defisit yang lebih besar meningkatkan kebutuhan pemerintah untuk mencari pendanaan melalui penerbitan utang. Kondisi tersebut membuat pemerintah bersaing dengan rumah tangga dan sektor usaha dalam memperoleh dana, sehingga mendorong kenaikan suku bunga secara luas.
Sejumlah kebijakan besar dalam satu dekade terakhir, termasuk Tax Cuts and Jobs Act, paket stimulus pandemi, serta One Big Beautiful Bill Act, dinilai memperbesar defisit anggaran federal.
The Budget Lab memperkirakan One Big Beautiful Bill Act akan menambah defisit sebesar US$2,4 triliun dalam 10 tahun mendatang, di luar biaya bunga. Kebijakan tersebut diperkirakan menaikkan suku bunga KPR 30 tahun sebesar 0,4 poin persentase pada akhir 2030 dan mencapai 1,5 poin persentase pada 2055.
Sementara itu, biaya perang Iran yang menurut Pentagon mencapai US$29 miliar juga diperkirakan memberi tekanan tambahan terhadap suku bunga, meski dalam skala yang relatif kecil.
Mayoritas ekonom mendukung kebijakan defisit saat terjadi krisis ekonomi atau untuk membiayai investasi yang dapat meningkatkan penerimaan negara di masa depan. Namun, Amerika Serikat tercatat membelanjakan dana jauh melebihi pendapatannya selama lebih dari dua dekade.
Pilihan untuk memperbaiki kondisi fiskal, seperti menaikkan pajak dan memangkas belanja negara, tetap menjadi langkah yang sulit secara politik. Beberapa opsi yang dinilai dapat membantu menekan defisit antara lain peningkatan pengawasan kepatuhan pajak, reformasi program jaminan sosial, pembenahan Medicare Advantage, serta penghapusan sejumlah fasilitas perpajakan.
Penulis analisis tersebut menilai tantangan terbesar bukan hanya mencari solusi, tetapi juga membangun kesadaran publik bahwa defisit anggaran memiliki dampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat.
"Politisi merespons konsekuensi elektoral. Saat ini tidak ada yang menghalangi mereka memberikan pemotongan pajak dan janji belanja baru sambil mendorong kenaikan suku bunga."
Ia menilai para ekonom perlu menjelaskan dampak nyata defisit kepada publik, bukan sekadar membahas besarnya angka utang negara.
"Jika kita ingin para pembuat kebijakan benar-benar menangani masalah ini, para ekonom harus menjelaskan dengan lebih baik apa yang dipertaruhkan."
Menurutnya, fokus pembahasan seharusnya bergeser dari besarnya utang nasional ke dampaknya terhadap kondisi keuangan masyarakat sehari-hari.
"Daripada membahas bahwa utang nasional dapat memenuhi 32 stadion NFL dengan tumpukan uang pecahan US$100, kita seharusnya membahas bagaimana belanja berbasis defisit membuat masyarakat semakin sulit membayar tagihan mereka sendiri."(DH)