The Fed diprediksi naikkan bunga, harga emas anjlok 25%
Senin, 15 Juni 2026
JAKARTA - Reli harga emas yang mencetak rekor dalam dua tahun terakhir mulai kehilangan tenaga setelah ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Setelah mencapai rekor tertinggi US$5.595 per troy ounce pada Januari, harga emas spot terkoreksi sekitar 25%. Kenaikan harga minyak akibat perang Iran serta meningkatnya spekulasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve mendorong investor beralih dari aset safe haven ke instrumen yang lebih sensitif terhadap suku bunga.
Tekanan tersebut membawa harga emas menyentuh level terendah dalam enam bulan terakhir pada Kamis. Pada Jumat, emas diperdagangkan di kisaran US$4.188 per troy ounce setelah sempat turun hingga US$4.022 per troy ounce sehari sebelumnya.
"Dalam jangka waktu yang sangat pendek, pasar harus mencerna risiko kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar," kata Aakash Doshi, Kepala Strategi Emas dan Logam di State Street Investment Management, seperti dikutip Reuters.
Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan lalu memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi itu mendorong harga emas menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun.
Level teknikal yang kini berada di sekitar US$4.446 per troy ounce dipandang sebagai area resistensi penting. Sejumlah pelaku pasar menilai pergerakan tersebut menandakan perubahan tren setelah emas melonjak 64% sepanjang 2025, kenaikan tahunan terbesar dalam 46 tahun.
Reli emas dalam beberapa tahun terakhir ditopang pembelian agresif bank sentral dan tingginya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global. Investor sebelumnya memanfaatkan emas untuk mengurangi risiko yang berasal dari kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump, independensi Federal Reserve, dan perang Rusia-Ukraina.
"Sementara para analis terpaku pada kekacauan dunia baru yang diciptakan Trump, kini tampaknya keuntungan besar tahun lalu sebagian besar didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga," kata Adrian Ash, kepala riset di pasar online BullionVault.
Menurut BullionVault, posisi jual spekulatif di pasar emas COMEX masih berada di level rendah, membuka ruang bagi investor untuk meningkatkan taruhan penurunan harga apabila tekanan suku bunga terus berlanjut.
Sementara itu, analis Standard Chartered Suki Cooper memperkirakan sedikitnya 270 ton emas yang dimiliki exchange-traded funds (ETF) berada dalam posisi merugi pada harga di bawah US$4.250 per troy ounce. Jika harga turun ke US$4.000 per troy ounce, jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 298 ton.
Data pasar menunjukkan ETF berbasis emas mencatat arus keluar sebesar 16 ton sepanjang Mei dan tambahan 7 ton pada pekan pertama Juni. Di saat yang sama, permintaan fisik juga melemah secara musiman, terutama di India yang menjadi salah satu konsumen emas terbesar dunia.
Meski demikian, sejumlah analis menilai prospek jangka panjang emas masih ditopang oleh pembelian bank sentral, membengkaknya defisit fiskal global, dan meningkatnya fragmentasi geopolitik akibat konflik di Timur Tengah.
Doshi memperkirakan harga emas berpeluang pulih apabila ketegangan di Timur Tengah mereda dan harga minyak turun menuju US$80 per barel. Namun dalam jangka pendek, pasar masih akan dipengaruhi arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar.
Nicky Shiels, kepala strategi logam di MKS PAMP, memperkirakan harga emas bergerak terbatas dalam beberapa bulan ke depan sambil menunggu munculnya katalis baru yang lebih kuat. "sebelum muncul lebih banyak faktor pendukung dan katalis strategi".(DH)