Bitcoin tembus US$65.000 setelah AS dan Iran capai kesepakatan

Senin, 15 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga bitcoin melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua pekan setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi utama yang selama berbulan-bulan menjadi sumber kekhawatiran pasar global.

Seperti dikutip Coindesk, bitcoin diperdagangkan di kisaran US$65.844 pada Senin, naik 2,1% dalam 24 jam terakhir. Aset kripto terbesar di dunia itu sempat menyentuh level US$63.722 pada awal perdagangan Asia sebelum kabar kesepakatan muncul.

Penguatan tersebut mendorong bitcoin sekitar 9% di atas level terendah pekan lalu yang berada di bawah US$60.000, titik terlemah sejak Oktober 2024.

Sentimen positif juga mengangkat mayoritas aset kripto. Ether naik 2,5% menjadi US$1.721, Solana menguat 3,6% ke US$71, sementara XRP bertambah 3,2% menjadi US$1,19. Token Hyperliquid (HYPE) memimpin penguatan dengan kenaikan 7,5% mendekati US$65. BNB dan Dogecoin juga mencatat kenaikan lebih dari 1%.

Reli pasar kripto terjadi bersamaan dengan pelemahan harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun lebih dari 4% menuju US$83 per barel setelah pelaku pasar mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga sejak akhir Februari.

Sentimen risk-on juga terlihat di pasar keuangan global. Bursa saham Asia melonjak lebih dari 3%, dengan indeks Nikkei 225 Jepang menuju rekor penutupan tertinggi. Kontrak berjangka S&P 500 naik 1,2%, sementara dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama.

Kesepakatan antara AS dan Iran pertama kali diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kemudian dikonfirmasi Presiden Donald Trump dan media pemerintah Iran. Trump menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat setelah penandatanganan kesepakatan.

Sebelumnya, ketegangan antara Iran dan AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar kripto. Lonjakan harga minyak meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi, sehingga investor mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti bitcoin.

Meredanya konflik membuat pasar mulai memperhitungkan skenario sebaliknya. Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan meredakan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.

Meski demikian, sejumlah faktor masih membayangi prospek bitcoin. Awal bulan ini, Strategy mengungkapkan penjualan 32 bitcoin untuk membayar dividen saham preferen.

Tekanan juga datang dari arus keluar dana pada produk exchange-traded fund (ETF) berbasis bitcoin. Kondisi ini menunjukkan pemulihan harga belum sepenuhnya didukung oleh kembalinya permintaan institusional.(DH)