Thailand vs Kamboja memanas, siapa lebih kuat secara militer?

Senin, 08 Desember 2025

image

JAKARTA – Ketegangan militer antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat setelah Bangkok melancarkan serangan udara di wilayah perbatasan yang disengketakan. Serangan ini dipicu oleh saling tuduh pelanggaran gencatan senjata yang sebelumnya ditengahi Presiden AS, Donald Trump.

Dikutip dari reuters.com (08/12), konflik meruncing sejak Thailand menghentikan upaya de-eskalasi bulan lalu, setelah seorang tentaranya kehilangan anggota badan akibat ledakan ranjau darat. Bangkok menuduh ranjau tersebut baru dipasang oleh Kamboja, namun Phnom Penh membantah klaim tersebut.

Lalu, bagaimana perbandingan kekuatan militer kedua negara?

Kamboja mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar US$1,3 miliar pada 2024 dengan 124.300 personel aktif. Angkatan darat memiliki sekitar 75.000 prajurit, lebih dari 200 tank tempur, dan hampir 480 unit artileri. Angkatan udara Kamboja relatif kecil, dengan 1.500 personel, tanpa pesawat tempur, serta 16 helikopter multiguna.

Thailand memiliki postur militer yang jauh lebih besar. Sebagai sekutu utama non-NATO AS, negara ini menganggarkan US$5,73 miliar untuk pertahanan 2024, didukung lebih dari 360.000 personel aktif. Angkatan daratnya mencapai 245.000 personel, termasuk 115.000 wajib militer, dilengkapi sekitar 400 tank, lebih dari 1.200 kendaraan lapis baja, dan sekitar 2.600 unit artileri.

Angkatan udara Thailand termasuk yang terkuat di Asia Tenggara, dengan 112 pesawat tempur, termasuk F-16 dan Gripen, serta puluhan helikopter.

Kesenjangan kekuatan juga tampak di laut. Angkatan laut Kamboja memiliki sekitar 2.800 personel dan belasan kapal patroli, sedangkan Thailand mengoperasikan hampir 70.000 personel, tujuh fregat, 68 kapal patroli dan kapal tempur pesisir, serta satu kapal induk. Marinir Thailand diperkuat 23.000 personel dan didukung armada amfibi yang jauh lebih lengkap.

Perbandingan ini menunjukkan ketidakseimbangan militer yang signifikan, sehingga eskalasi konflik di perbatasan berpotensi berkembang menjadi situasi yang berat sebelah antara kedua negara.

Bagaimana dengan dukungan China?

Meskipun Thailand memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar, Kamboja mendapat dukungan strategis dari China. Seperti dikutip cambodianess.com, Kamboja sejak lama menjadi sekutu setia China, menerima miliaran dolar investasi. Washington menyatakan kekhawatirannya bahwa Beijing memanfaatkan pangkalan angkatan laut Kamboja—yang telah direnovasinya di Teluk Thailand—untuk memperluas pengaruh di kawasan.

Hampir 900 personel militer China dan lebih dari 1.300 tentara Kamboja ikut serta dalam latihan yang akan berlangsung hingga 28 Mei, menurut pernyataan Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja (RCAF).

Latihan tersebut akan menampilkan berbagai perlengkapan militer canggih China, termasuk kendaraan lapis baja, helikopter, kapal perang, drone pengintai, dan anjing robot tempur, demikian isi pernyataan itu.

Bantuan strategis dari China terutama dalam bentuk:

  • Bantuan militer, termasuk modernisasi peralatan dan pelatihan.
  • Pendanaan dan pembangunan pangkalan, seperti pengembangan pangkalan angkatan laut Ream, yang menurut AS dapat memberi Beijing akses militer langsung ke Teluk Thailand.
  • Dukungan politik, terutama di fora internasional dan ASEAN, di mana Beijing memandang Phnom Penh sebagai salah satu sekutu terdekatnya di Asia Tenggara.

Dukungan China ini menciptakan variabel baru dalam kalkulasi kekuatan: postur militer Kamboja memang lebih kecil, tetapi hubungan erat dengan Beijing memberi efek penyeimbang secara geopolitik, terutama jika konflik berkembang melampaui insiden perbatasan. (DH)