Keith Kellog: Damai sudah tinggal 10 meter, Rusia minta revisi radikal
Senin, 08 Desember 2025

JAKARTA - Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II dikabarkan telah mencapai fase krusial namun rapuh.
Keith Kellogg, utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Ukraina yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah "sangat dekat". Namun, optimisme Washington ini langsung dibenturkan dengan sikap keras Kremlin yang menuntut adanya "perubahan radikal" terhadap proposal yang diajukan Amerika Serikat.
Seperti dilansir dari reuters.com (7/12), Kellogg mengungkapkan dalam Reagan National Defense Forum bahwa upaya penyelesaian konflik kini berada di "10 meter terakhir"—fase yang menurutnya selalu menjadi bagian tersulit dalam setiap negosiasi.
Ia merinci bahwa hanya tersisa dua hambatan utama yang harus diselesaikan: masalah teritorial, khususnya masa depan wilayah Donbas, dan status Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, PLTN terbesar di Eropa yang saat ini berada di bawah kendali Rusia. "Jika kita bisa menyelesaikan dua masalah itu, saya rasa sisanya akan berjalan cukup baik. Kita hampir sampai," ujar Kellogg.
Namun, di sisi lain meja perundingan, Moskow mengirimkan sinyal yang kurang kompromis. Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri utama Presiden Vladimir Putin, menegaskan bahwa AS harus melakukan "perubahan serius, bahkan radikal" terhadap dokumen proposal mereka.
Pernyataan ini muncul setelah Putin melakukan pembicaraan intensif selama empat jam dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner yang diperkirakan Kremlin akan memegang peran kunci dalam penyusunan draf kesepakatan.
Inti perselisihan terletak pada klaim Rusia atas seluruh wilayah Donbas, padahal Ukraina masih menguasai setidaknya 5.000 km persegi wilayah tersebut. Presiden Volodymyr Zelenskiy menegaskan bahwa menyerahkan sisa wilayah Donetsk tanpa referendum adalah tindakan ilegal.
Di balik tarik-menarik diplomasi ini, Kellogg mengungkap data statistik yang mengerikan mengenai dampak kemanusiaan perang tersebut. Ia memperkirakan bahwa Rusia dan Ukraina secara gabungan telah menderita lebih dari 2 juta korban (gabungan tewas dan luka-luka) sejak invasi dimulai pada Februari 2022.
Angka ini jauh melampaui perkiraan publik sebelumnya, menegaskan urgensi bagi Trump yang ingin dikenang sebagai "presiden pendamai" untuk segera menuntaskan konflik di mana Rusia kini menguasai sekitar 19,2 persen wilayah Ukraina. (SF)