Analis: Janji Trump soal harga minyak dinilai sulit terwujud
Selasa, 16 Juni 2026
NEW YORK - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa harga minyak akan turun drastis setelah tercapainya kesepakatan damai dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, sejumlah analis menilai proses penurunan harga energi kemungkinan tidak akan berlangsung secepat yang diperkirakan.
Dikutip dari CNN, Trump sebelumnya menilai dampak ekonomi akibat konflik dengan Iran hanya bersifat sementara dan akan diimbangi oleh manfaat keamanan jangka panjang bagi Amerika Serikat
Setelah kerangka kesepakatan damai diumumkan dan Selat Hormuz dijadwalkan kembali dibuka, perhatian pasar kini beralih pada prospek harga minyak dan gas.
Meski harga minyak telah turun tajam dari puncaknya, pasar berjangka masih memperkirakan harga energi akan bertahan di level tinggi dalam jangka panjang.
Harga minyak Brent kini telah turun lebih dari US$25 per barel dari puncak tertingginya sebulan lalu. Namun, kontrak berjangka jangka panjang menunjukkan harga minyak diperkirakan baru akan kembali berada di bawah US$70 per barel pada akhir 2031.
Menurut analis, pasar masih mempertimbangkan berbagai tantangan yang harus dihadapi industri energi sebelum pasokan benar-benar kembali normal.
Pendiri dan Chief Investment Officer Pickering Energy Partners, Dan Pickering, mengatakan bahwa kondisi pasar pascakonflik kemungkinan akan membentuk "normal baru" yang berbeda dari sebelum perang.
alah satu tantangan utama adalah pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Menurut sejumlah analis, keberadaan ranjau di kawasan tersebut dapat membatasi pergerakan kapal dan memperlambat normalisasi distribusi minyak.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kemacetan di salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia dan memperlambat pemulihan distribusi minyak global.
Pejabat keselamatan dan keamanan BIMCO (Baltic International Maritime Council), Jakob Larsen, mengatakan bahwa proses pembersihan ranjau membutuhkan waktu beberapa pekan. Meski Amerika Serikat memiliki teknologi penyapu ranjau, proses identifikasi dan penonaktifan ranjau tetap membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Selain itu, jumlah kapal tanker yang siap mengangkut minyak juga masih lebih sedikit dibandingkan dengan saat kondisi prakonflik.
Analis Macquarie Group, Vikas Dwivedi, memperkirakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz baru akan kembali normal sekitar satu bulan setelah selat dibuka kembali.
Namun, seluruh proyeksi tersebut bergantung pada keberlangsungan kesepakatan damai. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai masih berpotensi meningkat sewaktu-waktu.
Menurut Larsen, banyak pemilik kapal tidak akan kembali beroperasi secara penuh tanpa adanya gencatan senjata yang kredibel dan stabil.
BIMCO memperkirakan dibutuhkan sekitar dua bulan untuk memulihkan operasional Selat Hormuz seperti semula, sementara Capital Economics memperingatkan bahwa proses tersebut masih akan berlangsung hingga enam bulan ke depan.
Tantangan lain muncul dari sisi produksi minyak. Banyak sumur minyak di Timur Tengah sempat menghentikan operasinya selama konflik berlangsung, sehingga pemulihan produksi tidak dapat dilakukan secara instan.
Selain itu, selama konflik berlangsung, banyak minyak yang tidak dapat dikirim ke pasar sehingga fasilitas penyimpanan di sejumlah wilayah nyaris penuh.
Dalam jangka panjang, industri energi juga harus memperbaiki berbagai fasilitas yang rusak akibat konflik serta mengisi kembali cadangan minyak darurat yang telah terkuras.
Menurut Pickering, proses pengisian ulang cadangan strategis tersebut berpotensi meningkatkan permintaan tambahan hingga lebih dari 1 juta barel per hari. Sehingga, dapat menopang harga minyak dalam beberapa tahun ke depan.
Meski harga minyak berpotensi turun dalam jangka pendek akibat melimpahnya pasokan, sejumlah analis memperkirakan bahwa peningkatan permintaan pada tahap pemulihan dapat kembali mendorong harga energi lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang. (ARF)