Inflasi AS naik, tekanan terhadap pasar kripto bertambah

Selasa, 16 Juni 2026

image

NEW YORK - Prospek kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat berpotensi menjadi sentimen negatif baru bagi pasar kripto yang saat ini masih menghadapi tekanan.

Dikutip dari The Moetley Fool, unflasi tahunan AS berdasarkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,2%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan inflasi tersebut mendorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Selain itu, konflik yang masih berlangsung dengan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar tekanan inflasi.

Di saat yang sama, sentimen pasar kripto masih lemah. Indeks Crypto Fear and Greed yang mengukur sentimen investor berada di level 21 atau kategori ketakutan ekstrem. Sementara itu, harga bitcoin tercatat turun sekitar 20% dalam 30 hari terakhir.

Kenaikan suku bunga umumnya dianggap negatif bagi aset berisiko seperti kripto. Ketika The Fed menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat sehingga investor memiliki alternatif investasi yang dinilai lebih aman.

Kondisi tersebut dapat mengurangi aliran dana ke aset yang tidak menghasilkan pendapatan tetap, termasuk kripto, terutama aset digital dengan tingkat risiko yang lebih tinggi.

Saat ini pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026. Peluang skenario tersebut diperkirakan mendekati 51%, meningkat dibandingkan dengan beberapa bulan lalu yang nyaris tidak diperhitungkan oleh investor.

Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) dijadwalkan menggelar pertemuan pada 16-17 Juni mendatang. Secara historis, pasar kripto cenderung mengalami tekanan menjelang rapat The Fed, sementara kenaikan suku bunga berpotensi membatasi penguatan harga aset digital dalam beberapa bulan berikutnya.

Meski demikian, dampak kenaikan suku bunga diperkirakan tidak akan sama bagi seluruh aset kripto.

Ethereum dinilai memiliki risiko penurunan yang lebih besar karena ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang dibangunnya bersaing langsung dengan instrumen investasi berbunga seperti obligasi pemerintah AS.

Solana juga dinilai rentan terhadap berkurangnya likuiditas ketika kondisi pendanaan menjadi lebih ketat.

Di sisi lain, XRP menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik. Produk ETF XRP spot masih mencatat aliran dana masuk meskipun ETF Bitcoin mengalami arus keluar dana.

Sementara itu, Bitcoin diperkirakan menjadi aset kripto yang paling mampu bertahan dari tekanan kenaikan suku bunga karena saat ini telah dimiliki oleh ETF spot, perusahaan publik, hingga sejumlah institusi pemerintah.

Pelaku pasar juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan FOMC pekan ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan. (ARF)