Bos IMF: Ekonomi global tetap kuat meski ada risiko pasokan energi
Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menilai ekonomi global masih mampu bertahan di tengah dampak perang di Timur Tengah dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi dunia. Namun, ia mengingatkan risiko terhadap pertumbuhan global masih tinggi.
Seperti dikutip Reuters, menjelang pertemuan G7 di Prancis pekan ini, Georgieva menyambut kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang serta membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, ia menegaskan gangguan pasokan energi dan kemungkinan meningkatnya konflik tetap menjadi ancaman bagi perekonomian global.
Dalam blog yang dipublikasikan IMF, Georgieva menulis bahwa konflik yang berlangsung lebih dari tiga bulan telah memengaruhi harga komoditas, inflasi, dan kondisi keuangan global, tetapi belum sampai memicu perlambatan ekonomi dunia.
"Lebih dari tiga bulan setelah perang di Timur Tengah dimulai, ekonomi global tampaknya masih bertahan. Harga komoditas, inflasi dan ekspektasi inflasi, serta kondisi keuangan semuanya terpengaruh tetapi belum sampai pada tingkat yang menandakan perlambatan global," tulis Georgieva.
IMF dijadwalkan memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 8 Juli mendatang. Pada April lalu, lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia dapat melambat menjadi 2,5% pada 2026 dalam skenario yang lebih buruk, dengan inflasi global mencapai 5,4%.
Namun, perkembangan terbaru setelah tercapainya kesepakatan AS-Iran membuka peluang IMF kembali menggunakan proyeksi dasar yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% pada 2026.
Meski perang mereda, IMF menilai risiko belum sepenuhnya hilang. Kesepakatan tersebut masih bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Lebanon dan belum menyentuh penyelesaian program nuklir Iran.
"Banyak hal bergantung pada durasi dan intensitas guncangan pasokan energi," tulis Georgieva. "Semakin cepat diatasi, semakin baik."
Harga minyak masih berada sekitar 30% di atas level sebelum perang meskipun telah turun dari puncaknya. IMF memperingatkan gangguan baru terhadap pasokan energi atau infrastruktur di Timur Tengah dapat kembali menekan prospek ekonomi global.
Menurut Georgieva, dampak konflik tidak dirasakan secara merata. Negara-negara pengekspor minyak di Teluk diperkirakan menghadapi revisi turun terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini, sementara sebagian negara bahkan berpotensi mengalami kontraksi.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan China masih menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat. Investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data turut menopang aktivitas ekonomi di AS serta negara-negara eksportir teknologi di Asia.
Negara berkembang di Asia menghadapi kenaikan harga bahan bakar hingga 40% sejak perang dimulai. Tekanan juga muncul dari pelemahan mata uang, kenaikan imbal hasil obligasi, dan arus keluar modal.
Di Afrika, negara-negara yang bergantung pada impor menghadapi tekanan fiskal dan pembiayaan yang semakin berat akibat lonjakan harga energi, pupuk, dan pangan. Beberapa negara seperti Ethiopia, Malawi, dan Zambia dilaporkan mengalami kelangkaan bahan bakar sejak konflik berlangsung.
Georgieva menambahkan sebagian besar negara anggota IMF saat ini lebih banyak meminta panduan kebijakan dibandingkan bantuan keuangan langsung. IMF juga tengah bekerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Ethiopia, Malawi, Burkina Faso, Gambia, dan Bangladesh untuk menyesuaikan program pinjaman yang sudah berjalan maupun menyiapkan skema baru.(DH)