KTT G7 dibayangi retaknya hubungan Trump dengan para pemimpin dunia
Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Évian-les-Bains, Prancis, di tengah memburuknya hubungan dengan sejumlah pemimpin negara anggota kelompok tersebut.
Seperti dikutip Cnn, dalam beberapa bulan terakhir, Trump melontarkan berbagai kritik dan sindiran kepada sebagian besar pemimpin G7. Ketegangan terbaru dipicu oleh penolakan sejumlah negara sekutu AS untuk terlibat dalam perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Meski isu Iran menjadi perhatian utama dalam pertemuan kali ini, hubungan Trump dengan para pemimpin G7 sebenarnya telah lama diwarnai gesekan sejak masa jabatan pertamanya.
Selama bertahun-tahun, para pemimpin negara sekutu AS berupaya meredam ketegangan, namun sebagian mulai memberikan respons terbuka terhadap serangan verbal Trump.
Hubungan Trump dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron menjadi salah satu yang paling kompleks.
Keduanya kerap menunjukkan kedekatan di depan publik, namun tidak jarang saling melontarkan kritik. Setelah bertahun-tahun mengklaim mampu menjalin komunikasi efektif dengan Trump, Macron belakangan menunjukkan sikap yang lebih frustrasi terhadap Presiden AS tersebut.
Di Kanada, hubungan Trump dengan Perdana Menteri Mark Carney awalnya terlihat lebih baik dibanding relasinya dengan mantan Perdana Menteri Justin Trudeau.
Namun perselisihan terkait perdagangan dan pidato Carney di Forum Ekonomi Dunia Davos mengubah dinamika tersebut.
Trump bahkan mulai menyebut Carney sebagai “Governor Carney,” merujuk pada gagasannya menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menghadapi perubahan sikap dari Trump. Upaya Starmer membangun hubungan dekat dengan Presiden AS sempat membuahkan hasil, tetapi penolakannya mendukung perang terhadap Iran memicu ketegangan baru.
Trump kemudian meremehkan Starmer dengan menyebutnya “Tidak ada Winston Churchill.”
Kanselir Jerman Friedrich Merz yang sebelumnya mendapat sambutan positif dari Trump saat berkunjung ke Gedung Putih juga mulai kehilangan posisinya sebagai salah satu pemimpin Eropa yang disukai Presiden AS.
Kritik Merz terhadap perang Iran dan pernyataannya bahwa AS sedang “dipermalukan oleh kepemimpinan Iran” memicu ketidaksenangan Trump.
Bahkan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang selama ini dianggap salah satu sekutu terdekat Trump di Eropa, tidak luput dari kritik. Ketegangan muncul setelah Meloni menolak terlibat dalam perang melawan Iran.
Hubungan keduanya semakin memburuk ketika Meloni menyebut serangan Trump terhadap Paus Leo XIV sebagai “Tidak dapat diterima.”
Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menjadi satu-satunya pemimpin G7 yang relatif berhasil menghindari konflik terbuka dengan Trump. Takaichi berupaya membangun hubungan personal dengan Presiden AS melalui kedekatan historis dengan mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe.(DH)