Bomber B-52 Stratofortress jatuh saat uji coba
Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA - Delapan awak tewas setelah pesawat pembom B-52 Stratofortress jatuh sesaat setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Edwards, California, Amerika Serikat, Senin pagi waktu setempat.
Seperti dikutip CNN, pihak pangkalan menyatakan insiden tersebut menjadi kecelakaan paling mematikan yang melibatkan B-52 sejak 1982, ketika sembilan awak meninggal dalam kecelakaan saat latihan uji coba di Pangkalan Udara Mather, California.
Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan merupakan B-52 yang sedang menjalankan misi uji rutin untuk mendukung program modernisasi radar. Pesawat lepas landas pada pukul 11.20 waktu setempat sebelum akhirnya jatuh di area pangkalan.
“Itu tragis dan tak mungkin selamat,” kata Kolonel James Hayes dalam konferensi pers.
Tim darurat segera dikerahkan ke lokasi kecelakaan yang memunculkan kepulan asap hitam besar. Otoritas kini mengubah status operasi menjadi misi pemulihan korban dan pengamanan lokasi.
Kepala Bintara Joshua T. Skarloken mengatakan proses pemberitahuan kepada keluarga korban sedang berlangsung. Menurut dia, awak pesawat terdiri atas personel militer, pegawai sipil pemerintah, dan kontraktor pemerintah.
Boeing mengonfirmasi dua karyawannya berada di dalam penerbangan tersebut. “Kami sedang berhubungan dengan keluarga mereka dan menawarkan dukungan,” kata perusahaan itu dalam pernyataan resmi.
Menteri Angkatan Udara AS Troy E. Meink dan Ketua DPR AS Mike Johnson turut menyampaikan belasungkawa atas insiden tersebut.
Rekaman udara menunjukkan bekas hangus berwarna hitam di landasan serta sisa asap di lokasi jatuhnya pesawat. Meski pangkalan telah dibuka kembali, seluruh operasi penerbangan dihentikan hingga Selasa.
Militer AS mulai melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Namun, hasil penyelidikan diperkirakan baru dapat dipublikasikan dalam waktu sekitar enam bulan.
Pangkalan Udara Edwards dikenal sebagai pusat pengujian berbagai jenis pesawat militer, helikopter, drone, hingga wahana antariksa. Lokasi tersebut selama puluhan tahun menjadi pusat pengembangan dan pengujian teknologi penerbangan Amerika Serikat.
B-52 Stratofortress Ikut Serang Iran
B-52 Startofortress yang jatuh merupakan salah satu pesawat tertua dalam armada Angkatan Udara AS. Pesawat pembom jarak jauh itu mulai beroperasi pada 1955 dan masih menjadi bagian penting dari kekuatan strategis Amerika Serikat, termasuk dalam misi yang melibatkan kemampuan nuklir.
Bomber ini merupakan pesawat pembom strategis jarak jauh buatan Boeing yang menjadi salah satu ikon kekuatan udara Amerika sejak era Perang Dingin.
Pesawat ini memiliki jangkauan antarbenua, mampu terbang lebih dari 14.000 kilometer tanpa pengisian bahan bakar, serta dapat membawa muatan senjata hingga sekitar 31 ton, termasuk bom konvensional, rudal jelajah, dan senjata berkemampuan nuklir.
Meski desain dasarnya telah berusia lebih dari 70 tahun, B-52 terus dimodernisasi dengan sistem avionik, radar, dan mesin baru sehingga diproyeksikan tetap beroperasi hingga dekade 2050-an.
Sebelum kecelakaan ini, insiden fatal terakhir yang melibatkan B-52 terjadi pada 2008 ketika enam personel Angkatan Udara AS tewas setelah pesawat mereka jatuh ke Samudra Pasifik dekat Guam saat persiapan atraksi udara.
B-52 tidak lagi diproduksi sejak 1962. Namun, berbagai program modernisasi dan perpanjangan usia pakai terus dilakukan untuk mempertahankan operasional armada tersebut, termasuk program penggantian mesin yang nilainya diperkirakan mencapai US$48,6 miliar.
Dalam perkembangan terbaru, B-52 kembali menjadi bagian dari operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Pada 2026, Pentagon mengonfirmasi bahwa pesawat pembom B-52 mulai digunakan dalam misi serangan terhadap sasaran militer Iran, termasuk fasilitas peluncuran rudal balistik dan pusat komando, setelah sebelumnya operasi udara lebih banyak mengandalkan pesawat siluman B-2 dan rudal jelajah.
Penggunaan B-52 disebut dimungkinkan setelah sistem pertahanan udara Iran mengalami degradasi, sehingga pesawat pembom berat tersebut dapat menjalankan misi serangan dengan muatan bom yang besar dan efisien. (DH)