Rupiah tertekan, kenapa investor global borong obligasi Danantara?
Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA - Danantara Indonesia mencatat permintaan kuat dalam penerbitan obligasi global (global bond) perdananya. Nilai pemesanan atau peak orderbook mencapai sekitar US$4,6 miliar, jauh melampaui target awal penghimpunan dana sebesar US$1 miliar.
CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengatakan tingginya minat investor mendorong perusahaan meningkatkan nilai penerbitan menjadi US$1,5 miliar.
"Dari rencana 1 miliar dolar AS yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar AS. Melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari 1 miliar dolar AS menjadi 1,5 miliar dolar AS," kata Rosan di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip Antaranews.
Rosan menyebut capaian tersebut diperoleh setelah Danantara menggelar roadshow di sejumlah pusat keuangan global dan bertemu dengan 122 investor untuk memaparkan strategi investasi serta arah kebijakan perusahaan.
Obligasi global tersebut diterbitkan dalam dua tenor, yakni 5 tahun dan 10 tahun. Tingginya permintaan investor juga menekan biaya pendanaan yang harus dibayar Danantara.
Menurut Rosan, pada awal proses penerbitan sejumlah pelaku pasar memperkirakan Danantara harus menawarkan imbal hasil di atas 6% hingga 7% di tengah kondisi pasar yang masih tertekan. Namun, respons investor yang kuat membuat perusahaan memperoleh yield yang lebih rendah.
Yield obligasi tenor lima tahun ditetapkan sebesar 5,35%, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95%.
"Di lihat dari segi permintaannya, dilihat dari segi yield-nya yang relatif rendah. Karena kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka minta yield premium yang sangat tinggi," jelasnya.
Rosan menambahkan, keberhasilan penerbitan obligasi perdana tersebut membuka peluang bagi Danantara untuk menerbitkan surat utang dengan tenor yang lebih panjang pada masa mendatang, termasuk hingga 30 tahun, seiring tingginya minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan perusahaan.
Scale Attracts Capital
Terkait tingginya minat investor terhadap obligasi itu, sumber IDNFinancials yang dekat dengan Danantara, pernah menjelaskan bahwa, investor besar dunia akan mau membuka pintu jika ada yang datang dengan membawa perusahaan bernilai besar.
“Mereka hanya mau membuka pintu jika ukurannya besar. Maka menggabungkan semua BUMN dalam Danantara sebetulnya salah satu cara agar investor besar mau membuka pintu.”
Investor institusional global, lanjut dia, terutama yang mengelola dana puluhan hingga ratusan miliar dolar, cenderung tidak tertarik meluangkan waktu untuk peluang investasi yang skalanya terlalu kecil. “Mereka mencari transaksi ticket size yang besar dan likuid."
Di dunia private equity dan sovereign wealth fund, kata dia, ada konsep ‘scale attracts capital’, skala besar menarik modal besar.
Bagi investor global, proses due diligence itu mahal. Mengirim tim analis, pengacara, dan konsultan untuk mempelajari proyek membutuhkan biaya yang tidak kecil.
“Karena itu, mereka lebih suka berhadapan dengan satu entitas besar daripada 20 BUMN yang masing-masing menawarkan proyek kecil.”
Namun, menurut seorang analis, sejarah juga menunjukkan bahwa skala besar bisa menjadi pedang bermata dua:
Pertama, jika tata kelolanya kuat, skala menciptakan efisiensi dan akses modal murah.
Kedua, jika tata kelolanya lemah, skala memperbesar dampak kesalahan karena risiko yang tadinya tersebar menjadi terkonsentrasi dalam satu entitas.
Dalam teori keuangan, kata analis itu, konsolidasi memang menciptakan economies of scale, tetapi juga meningkatkan systemic risk.
“Risiko bahwa satu masalah dapat memengaruhi keseluruhan sistem. Misalnya 1MDB di Malaysia.”
Artinya, entitas yang besar membutuhkan kualitas tata kelola yang juga harus ‘naik kelas’. Semakin besar kapal yang dibangun, semakin penting sistem navigasi dan pengamanannya, karena jika terjadi kesalahan, dampaknya tidak lagi lokal tetapi bisa bersifat sistemik.
Ketika ditanya kenapa untuk obligasi Danantara investor asing mau buka pintu tetapi untuk kurs rupiah investor asing justru menutup pintu?
Begini, lanjutnya, di dunia investasi investor yang sama bisa sangat antusias membeli obligasi Danantara, tetapi pada saat yang sama menjual rupiah. “Itu bukan kontradiksi.”
Investor membeli 'risk-return profile', bukan Indonesia secara utuh. Ketika membeli obligasi Danantara, investor melihat:
Mereka tidak terlalu terpapar risiko kurs rupiah jika obligasinya memang berdenominasi dolar.
Sebaliknya, ketika memegang rupiah, mereka mengambil risiko yang berbeda:
Sehingga, lanjutnya, jika mereka merasa dolar akan menguat atau pasar global sedang risk-off, mereka bisa menjual rupiah meskipun mereka tetap suka investasi tertentu di Indonesia.
“Intinya, pasar valas sangat berbeda dengan pasar investasi jangka panjang.”
Pasar rupiah sangat dipengaruhi oleh aliran modal jangka pendek. Misalnya:
Hal tersebut sering kali tidak melibatkan penilaian baik-buruk terhadap Indonesia, melainkan bagian dari manajemen portofolio global.
Sebaliknya, investor yang membeli obligasi Danantara tenor 5 atau 10 tahun biasanya punya horizon yang lebih panjang dan fokus pada kemampuan pembayaran utang.
Kalau mereka merasa dolar akan menguat atau pasar global sedang risk-off, mereka bisa menjual rupiah meskipun mereka tetap suka investasi tertentu di Indonesia.
Karena itu, lanjutnya, sangat mungkin seorang fund manager di New York berkata:
"Saya senang membeli obligasi Danantara 10 tahun dengan yield hampir 6% dalam dolar AS, tetapi untuk sementara saya kurangi posisi di rupiah karena saya perkirakan dolar AS akan menguat."
Dari sudut pandang mereka, kedua keputusan itu konsisten, karena risiko yang mereka hadapi memang berbeda.
Strategi itu disebut relative value investing, di mana investor tidak bertaruh apakah suatu negara "baik" atau "buruk", melainkan apakah harga suatu aset terlalu murah atau terlalu mahal dibanding aset lain. Mereka bisa berpikir:
Kedua posisi itu bisa hidup berdampingan dalam satu portofolio.
Ada ungkapan yang cukup terkenal di dunia investasi: "Fall in love with the process, not with the asset." (DH/MT)
Terkait:
1. Danantara tetapkan 3 pilar menuju Indonesia emas, sesuai SWF global?
2. Danantara raup US$1,5 miliar dari obligasi perdana dolar AS