Krisis properti ubah jadi beban pertumbuhan China
Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA - Penurunan harga rumah baru di China kembali membesar pada Mei 2026, menandakan sektor properti negara tersebut masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan meski sejumlah kota besar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Seperti dikutip Reuters, Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan harga rumah baru turun 0,2% secara bulanan pada Mei, lebih dalam dibandingkan penurunan 0,1% pada April. Secara tahunan, harga rumah turun 3,5%, sama seperti bulan sebelumnya.
Data tersebut memperlemah harapan bahwa sektor properti China telah mendekati titik terendah setelah mengalami kemerosotan selama hampir lima tahun.
Krisis properti yang berkepanjangan telah menekan sejumlah pengembang besar, mengurangi aktivitas investasi, serta menggerus kepercayaan konsumen. Sektor yang sebelumnya menyumbang sekitar seperempat perekonomian China kini berubah menjadi salah satu beban utama pertumbuhan ekonomi.
Aktivitas pasar properti juga belum menunjukkan pemulihan yang merata. Penjualan rumah, investasi properti, pembangunan proyek baru, serta penghimpunan dana pengembang mencatat penurunan yang lebih tajam sepanjang Januari hingga Mei.
Sentimen negatif turut menekan pasar saham. Indeks saham properti China melemah 1,2% pada perdagangan pagi, sementara indeks pengembang properti China yang tercatat di Hong Kong anjlok sekitar 3%.
Meski demikian, sejumlah kota besar mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Harga rumah di kota-kota tier satu naik 0,2% pada Mei setelah meningkat 0,1% pada April. Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.
Analis Centaline Property, Zhang Dawei, menilai fase penurunan tajam harga rumah secara nasional telah berlalu dan pasar tidak menghadapi risiko koreksi drastis dalam waktu dekat.
Menurut Zhang, pasar properti China akan bergerak dengan pola yang berbeda di setiap wilayah, ditandai oleh "Ketahanan di kota-kota tingkat satu, perbedaan di kota-kota tingkat dua, dan tekanan di kota-kota tingkat tiga".
Pemerintah daerah juga mulai meningkatkan dukungan untuk mendorong transaksi properti. Guangzhou, misalnya, meluncurkan insentif baru berupa subsidi bagi warga yang menjual rumah lama dan membeli rumah baru, serta mendorong perusahaan milik negara untuk menyerap rumah bekas.
Harga rumah bekas di kota utama naik untuk bulan ketiga berturut-turut pada Mei. Namun, tren berbeda terjadi di kota tingkat dua dan tiga, di mana harga masih terus turun akibat tingginya pasokan dan lemahnya minat pembeli.
Laporan CITIC Securities menyebut pasokan rumah bekas tetap tinggi karena ekspektasi rumah tangga terhadap pasar properti masih lemah. Sebaliknya, pasokan rumah baru mulai menurun setelah pemerintah memperketat kebijakan pengendalian suplai lahan.
"Karena ekspektasi di sebagian besar rumah tangga tetap lemah, pasokan rumah bekas tetap tinggi," tulis CITIC Securities dalam laporannya.
Zhang memperkirakan proses pengurangan stok rumah di kota tingkat dua dan tiga masih akan berlangsung panjang. Harga properti di wilayah tersebut berpotensi bertahan di level rendah hingga kelebihan pasokan berhasil terserap pasar.(DH)