Hormuz dibuka, butuh bertahun-tahun harga minyak dekati level US$67

Rabu, 17 Juni 2026

image

JAKARTA - Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz belum cukup untuk mengembalikan harga minyak ke level sebelum perang.

Sejumlah analis menilai pasar energi masih membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan pasokan global yang terkuras selama konflik berlangsung.

Selama lebih dari tiga bulan perang di Timur Tengah, pasar minyak kehilangan sekitar 1 miliar hingga 1,5 miliar barel akibat pemangkasan produksi dan gangguan distribusi. Kekurangan tersebut sebagian ditutup melalui pelepasan cadangan strategis minyak oleh berbagai negara.

Amerika Serikat sendiri telah menggelontorkan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve sebagai bagian dari pelepasan cadangan global yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA) dengan total sekitar 400 juta barel.

Menurut Rob Thummel, Senior Portfolio Manager Tortoise Capital, pembukaan Selat Hormuz hanya menjadi langkah awal menuju normalisasi pasar.

"Pembukaan selat adalah langkah pertama," kata Thummel, seperti dikutip Marketwatch.

Ia memperkirakan pasar minyak perlu mengalami surplus pasokan dalam jangka panjang untuk mengisi kembali cadangan global yang telah menyusut.

Menurutnya, dibutuhkan setidaknya satu tahun sebelum persediaan minyak dunia kembali ke tingkat yang memungkinkan harga bergerak ke kisaran US$60 per barel.

Meski ketegangan mereda, harga minyak masih bertahan jauh di atas level sebelum perang.

Minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$83 per barel atau sekitar 15% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah pada akhir Februari. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$80 per barel, naik lebih dari 20% dibandingkan level pra-perang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan harga minyak dan bensin akan " jatuh seperti batu" setelah konflik dengan Iran berakhir. Namun analis menilai proses penurunan harga minyak tidak akan berlangsung secepat itu.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan memainkan peran penting dalam mempercepat pemulihan pasokan.

Kelompok produsen tersebut telah menyepakati peningkatan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli sebagai bagian dari pengurangan bertahap kebijakan pemangkasan produksi yang berlaku sejak 2023.

Analis memperkirakan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi, berpotensi meningkatkan produksi mendekati kapasitas maksimum untuk memulihkan cadangan global sekaligus merespons tekanan politik dari Washington.

Meski demikian, peningkatan produksi saja belum cukup untuk menurunkan harga minyak secara signifikan.

Biaya asuransi pengiriman melalui kawasan Teluk Persia saat ini masih sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Paul Baris, Principal di Efficio, konsultan rantai pasok, memperkirakan biaya tersebut memang dapat turun dalam beberapa hari setelah kesepakatan damai tercapai, tetapi membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan untuk kembali ke level normal.

"Kita perlu melihat transportasi umum tanpa insiden dalam skala besar," kata Baris.

Selain faktor biaya, pelaku pasar juga masih mencermati keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Menurut Rebecca Babin, Senior Energy Trader dan Managing Director CIBC Private Wealth, normalisasi pasar tidak hanya ditentukan oleh kapal yang berhasil keluar dari kawasan Teluk, tetapi juga oleh kembalinya aktivitas pemuatan minyak secara rutin.

Para analis akan mengamati apakah kapal-kapal kembali untuk memuat kargo, "bukan hanya apakah mereka berhasil keluar dari wilayah tersebut," kata Babin. "Itulah perbedaan antara pembukaan sementara dan pembukaan kembali yang berkelanjutan."

Ia menambahkan keberlanjutan kesepakatan damai akan menjadi faktor utama dalam memulihkan kepercayaan pasar.

"Ketahanan suatu perjanjian itu penting, tetapi pesan yang disampaikan di seputar perjanjian tersebut juga sama pentingnya," ujarnya.(DH)