Stella Li, sosok di balik strategi global BYD rajai otomotif dunia

Rabu, 17 Juni 2026

image

JAKARTA - Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, menargetkan posisi sebagai produsen mobil terbesar di dunia dalam lima tahun ke depan. Ambisi tersebut bertumpu pada ekspansi agresif di pasar internasional yang kini menjadi mesin pertumbuhan utama perusahaan.

Seperti dikutip Finance.yahoo, target itu disampaikan CEO BYD, Wang Chuanfu kepada para pemegang saham di Shenzhen.

Di tengah persaingan harga yang semakin ketat di pasar domestik China, perusahaan mengandalkan pertumbuhan penjualan luar negeri untuk mempertahankan laju ekspansi bisnisnya.

Sosok yang berada di balik strategi global tersebut adalah Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li. Selama tiga dekade terakhir, Li berperan penting dalam transformasi BYD dari produsen baterai ponsel menjadi pemimpin pasar kendaraan listrik dunia.

Li mengungkapkan sekitar 70% waktunya dihabiskan untuk melakukan perjalanan ke berbagai negara guna bertemu pejabat pemerintah, merekrut eksekutif lokal, serta menyusun strategi harga dan produk sesuai karakteristik masing-masing pasar.

Peran sentral Li membuat sejumlah kalangan internal perusahaan menjuluki kampanye ekspansi global BYD sebagai "Pertunjukan Stella".

Kinerja BYD terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Setelah menghentikan produksi kendaraan bermesin pembakaran internal pada 2022, perusahaan sepenuhnya berfokus pada kendaraan listrik dan hybrid plug-in.

Penjualan global BYD mencapai 4,27 juta unit pada 2024 dan menempatkan perusahaan di posisi keempat produsen mobil terbesar dunia. Pada 2025, penjualan kendaraan energi baru BYD meningkat menjadi 4,6 juta unit, menjadikannya produsen kendaraan listrik terbesar di dunia dan menggeser dominasi Tesla.

Ekspansi internasional menjadi kontributor utama pertumbuhan tersebut. Penjualan luar negeri melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi lebih dari satu juta unit pada 2025, didorong penetrasi pasar Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.

Pada Mei 2026, BYD mencatat penjualan lebih dari 160.000 unit di luar China, naik sekitar 80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menargetkan penjualan internasional mencapai 1,5 juta unit pada 2026. Meski demikian, jalan menuju ambisi tersebut tidak sepenuhnya mulus.

Di pasar domestik, BYD menghadapi perang harga yang semakin sengit di industri kendaraan listrik China. Sementara di luar negeri, perusahaan harus berhadapan dengan tekanan regulasi, isu ketenagakerjaan, serta hambatan politik di sejumlah negara.

Di Eropa, BYD menjadi sorotan dalam penyelidikan terkait subsidi asing oleh Uni Eropa. Perusahaan juga menghadapi tuduhan pelanggaran hak pekerja di pabriknya di Hungaria.

China Labor Watch menuduh adanya praktik jam kerja berlebihan, biaya perekrutan yang membebani pekerja migran, hingga kondisi tempat tinggal yang tidak layak.

Menanggapi tuduhan tersebut, BYD menyatakan tetap mematuhi seluruh ketentuan hukum Hungaria dan Uni Eropa serta menerapkan standar kepatuhan yang ketat terhadap seluruh kontraktor dan penyedia tenaga kerja.

Meski menghadapi tekanan, BYD memastikan pabrik perakitan kendaraan di Hungaria mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini. Perusahaan juga tengah mencari lokasi untuk fasilitas produksi kedua di Eropa.

Di Brasil, BYD juga menghadapi tuduhan terkait kondisi kerja yang dianggap menyerupai praktik perbudakan modern. Perusahaan membantah tuduhan tersebut dan mencapai kesepakatan dengan otoritas setempat tanpa mengakui adanya pelanggaran.

Stella Li menilai tantangan yang dihadapi BYD di berbagai negara lebih banyak berkaitan dengan persoalan kepercayaan terhadap perusahaan baru yang berasal dari China.

"Saat kamu masih baru, orang-orang tidak mempercayaimu," katanya. "Kamu hanya perlu transparan dan menunjukkan fakta."

Selain memperluas pasar kendaraan listrik, BYD mulai memperkuat investasi pada teknologi pengisian daya ultra cepat dan kecerdasan buatan. Pekan ini perusahaan mengumumkan rencana investasi sekitar 1,8 miliar pound sterling untuk membangun jaringan pengisian daya cepat di Eropa.

BYD juga mulai menyiapkan langkah ekspansi ke sektor robot humanoid. Perusahaan meyakini pengalaman dalam integrasi teknologi baterai, semikonduktor, dan perangkat lunak akan menjadi keunggulan dalam persaingan industri robot masa depan.

Menurut Li, tantangan terbesar robot humanoid saat ini bukan terletak pada kecerdasan buatan, melainkan kemampuan fisiknya untuk bekerja secara efektif di dunia nyata.

"Bukan otaknya," kata Li. "Tapi tubuhnya."(DH)