Perdamaian AS-Iran tekan harga aluminium anjlok 4,4%

Rabu, 17 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga aluminium jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua bulan setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara yang membuka jalan bagi normalisasi pengiriman logam melalui Selat Hormuz.

Seperti dikutip Mining, aluminium di London Metal Exchange (LME) turun 4,4% dan ditutup pada US$3.379,50 per ton metrik, level terendah sejak 27 Maret. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz setelah perjanjian resmi ditandatangani pada Jumat mendatang. Namun, rincian final masih dalam tahap negosiasi.

Sebelumnya, konflik Iran memicu gangguan pasokan aluminium global. Serangan rudal yang menyasar smelter di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz menghambat arus bahan baku dan distribusi logam jadi.

Meski produsen berupaya menjaga operasi melalui jalur logistik alternatif, industri tetap menghadapi defisit pasokan yang signifikan.

“Harga aluminium terlihat rentan dalam jangka pendek karena risiko pasokan mereda dan kekhawatiran terhadap permintaan tetap ada,” tulis analis Bank of America yang dipimpin Michael Widmer dalam risetnya.

Menurut Bank of America, produksi aluminium Timur Tengah yang menyumbang sekitar 10% pasokan global turun 35% secara tahunan pada April.

Namun, pelemahan tersebut berpotensi diimbangi oleh peningkatan produksi dari China, produsen aluminium terbesar dunia.

Analis juga menilai harga aluminium masih berisiko tertekan apabila persediaan aluminium Timur Tengah kembali mengalir ke pasar setelah Selat Hormuz dibuka. Selain itu, peningkatan pasokan dari smelter di Indonesia berpotensi menambah tekanan terhadap harga.

Presiden AS Donald Trump pada Minggu menyatakan telah mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya. Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan Iran akan memberikan akses pelayaran bebas di jalur tersebut selama 60 hari.

Meski demikian, pelaku industri pelayaran masih menunggu kejelasan lebih lanjut terkait keamanan jalur pelayaran sebelum kembali beroperasi secara normal.

Sejumlah analis juga memperkirakan industri aluminium masih menghadapi tantangan dalam memulihkan cadangan yang telah terkuras selama konflik berlangsung.

China telah meningkatkan ekspor aluminium sejak perang pecah. Namun, produsen di negara tersebut mulai menghadapi batasan kapasitas produksi yang ditetapkan pemerintah.

Di saat yang sama, produsen global terus mengandalkan stok yang tersimpan di bursa maupun gudang swasta untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Head of Base and Precious Metals Research JPMorgan Chase & Co, Gregory Shearer, mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memicu koreksi harga jangka pendek.

“Jika selat itu dibuka kembali, kita bisa melihat penurunan harga yang drastis karena aluminium sangat berkorelasi dengan energi,” kata Shearer.

Namun, ia menegaskan pasar aluminium masih menghadapi kekurangan pasokan yang besar.

“Namun kami tetap menyimpulkan bahwa pasar menghadapi kesenjangan pasokan yang besar, dan pertanyaan kuncinya adalah berapa lama lagi sebelum persediaan tak terlihat tersebut habis, dan persediaan terlihat mulai dikurangi,” ujarnya.

Di pasar logam lainnya, seluruh logam dasar di LME ditutup menguat. Harga tembaga naik 0,3%, sementara timah melonjak 2,9%.(DH)