IMF soroti ledakan stablecoin di Nigeria, ancam pengendalian moneter

Rabu, 17 Juni 2026

image

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) menilai lonjakan penggunaan stablecoin di Nigeria mulai menguji efektivitas kerangka kebijakan moneter dan regulasi yang berlaku. Aset kripto yang nilainya dipatok terhadap dolar AS itu semakin banyak digunakan rumah tangga dan pelaku usaha kecil untuk kebutuhan pembayaran lintas negara.

Seperti dikutip Theblock, dalam laporan yang dirilis Selasa, IMF menyebut stablecoin menawarkan alternatif yang lebih cepat dan murah dibandingkan saluran pembayaran konvensional. Dengan ponsel pintar dan akses internet, pengguna dapat menerima remitansi maupun melakukan transaksi internasional hanya dalam hitungan menit.

IMF mengutip data Bank Dunia yang menunjukkan biaya pengiriman dana sebesar US$200 ke kawasan Sub-Sahara Afrika masih mencapai sekitar 9% dari nilai transaksi, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 6%.

Peningkatan adopsi stablecoin juga didorong kondisi ekonomi domestik Nigeria sepanjang 2023 hingga 2024. Pelemahan tajam mata uang naira, inflasi yang tinggi, serta keterbatasan akses terhadap valuta asing resmi mendorong masyarakat dan pelaku usaha mencari instrumen berbasis dolar untuk melindungi nilai aset dan memenuhi kebutuhan pembayaran kepada pemasok luar negeri.

Namun, IMF mengingatkan bahwa penggunaan stablecoin secara luas juga membawa sejumlah risiko. Dominasi stablecoin berbasis dolar AS berpotensi menciptakan bentuk digital dari dolarisisasi yang dapat mengurangi permintaan terhadap mata uang lokal serta melemahkan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Selain itu, pergeseran aktivitas transaksi dari sistem perbankan ke dompet digital dan bursa kripto dinilai menyulitkan pengawasan regulator. IMF juga menyoroti potensi peningkatan risiko kejahatan keuangan, termasuk pencucian uang, akibat kecepatan dan anonimitas yang ditawarkan sejumlah platform.

Menurut IMF, tantangan tersebut tidak hanya terjadi di Nigeria, tetapi dampaknya lebih besar karena tingginya tingkat adopsi. Nigeria tercatat menyumbang sekitar 60% dari total arus masuk stablecoin ke kawasan Sub-Sahara Afrika sejak 2019.

IMF menilai upaya membatasi penggunaan stablecoin secara langsung kemungkinan tidak akan sepenuhnya efektif. Sebagai alternatif, lembaga tersebut mendorong regulator untuk tetap membuka ruang inovasi sambil memperkuat mitigasi risiko.

Secara global, total pasokan stablecoin yang dipatok ke dolar AS telah melampaui US$295 miliar. Stablecoin USDT milik Tether mendominasi pasar dengan nilai sekitar US$186,5 miliar, disusul USDC milik Circle yang mencapai hampir US$75 miliar.(DH)