BOJ jaga stabilitas pasar, yen sentuh level terendah sejak 2021
Rabu, 17 Juni 2026
TOKYO - Bank of Japan (BOJ) berhasil menjaga stabilitas pasar keuangan setelah mengumumkan keputusan kebijakan moneternya, sehingga pergerakan yen tetap berada dalam rentang sempit meski masih berada di level yang secara historis tergolong lemah.
Seperti dikutip Bloomberg, Pada Selasa, rentang pergerakan intraday dolar terhadap yen hanya mencapai 0,43 yen, menjadi yang terkecil pada hari terakhir rapat BOJ sejak Januari 2021.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang naik tipis, sementara indeks Nikkei 225 sempat menembus level 70.000 untuk pertama kalinya.
Yen terus diperdagangkan di atas level 160 per dolar hingga Rabu pagi waktu Tokyo, mendekati level yang sebelumnya mendorong Kementerian Keuangan Jepang melakukan intervensi untuk menopang mata uang tersebut pada akhir April.
Dengan mempertimbangkan ambang batas tersebut, investor tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi baru, terutama setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, berulang kali menegaskan bahwa pemerintah siap turun tangan jika diperlukan.
"Mengingat intervensi verbal yang terus dilakukan pejabat Kementerian Keuangan, banyak investor masih mewaspadai risiko intervensi langsung di pasar valas," tulis ahli strategi Morgan Stanley MUFG Securities, Koichi Sugisaki dan Hiromu Uezato.
"Karena itu, kami memperkirakan pasangan USD/JPY akan tetap bergerak dalam kisaran tertentu."
Selain risiko intervensi mata uang, pasar juga mempertimbangkan keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan diumumkan.
Namun stabilitas pasar saat ini memberikan sedikit kelegaan bagi pejabat BOJ.
Bank sentral Jepang telah menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi sejak 1995 dan menghentikan pengurangan pembelian obligasi, sesuai ekspektasi pasar.
Sorotan utama rapat kali ini adalah konferensi pers Wakil Gubernur BOJ, Shinichi Uchida, yang menggantikan Gubernur BOJ Kazuo Ueda setelah Ueda dirawat di rumah sakit pekan lalu akibat infeksi kista hati.
Ini menjadi rapat BOJ pertama sejak 2010 yang berlangsung tanpa kehadiran gubernur bank sentral.
Menjelang rapat, pelaku pasar ingin melihat apakah Uchida, yang dianggap sebagai salah satu arsitek utama kerangka kebijakan BOJ selama dua dekade terakhir, akan berbicara lebih lugas dibandingkan Ueda yang dikenal memiliki pendekatan sangat hati-hati dan penuh nuansa.
Namun, pernyataan Uchida tidak banyak menimbulkan kejutan.
Ia menyampaikan nada yang relatif hawkish sejalan dengan pernyataan kebijakan BOJ. Uchida mengatakan terdapat risiko inflasi inti meningkat melampaui target 2% dan bank sentral akan terus menaikkan suku bunga agar tidak tertinggal dalam mengendalikan inflasi.
"Saya melihat penampilannya cukup stabil," kata Mari Iwashita, kepala strategi suku bunga Nomura Securities.
Komentarnya, lanjut Iwashita, mengonfirmasi bahwa fokus kebijakan BOJ kini telah bergeser ke risiko inflasi.
Dalam konteks tersebut, peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut masih tetap terbuka.
Direktur Pelaksana SBI FX Trade, Marito Ueda, bahkan menyebut konferensi pers Uchida sebagai sesuatu yang "nyaris sempurna".
Menurutnya, Uchida berhasil menjaga keseimbangan dengan mengakui risiko inflasi yang meningkat sekaligus menegaskan bahwa kondisi moneter Jepang masih akomodatif.
Ia juga menghindari memberikan petunjuk tegas mengenai kemungkinan percepatan kenaikan suku bunga.
"Orang yang paling memahami kondisi di lapangan menjelaskan situasi secara logis dan ringkas, serta menjawab setiap pertanyaan dengan hati-hati satu per satu," ujar Ueda.
Setelah pernyataan BOJ dirilis, yen hanya melemah tipis ke level 160,35 per dolar dan bertahan di kisaran tersebut setelah konferensi pers Uchida.
Kondisi ini berbeda dengan beberapa konferensi pers sebelumnya yang memicu pelemahan tajam yen hingga memaksa pemerintah melakukan intervensi pasar.
Pada rapat BOJ sebelumnya pada 28 April, yen sempat merosot setelah pasar menilai komentar Ueda tidak cukup hawkish.
Dua hari kemudian, Kementerian Keuangan Jepang turun tangan dan menggelontorkan rekor ¥11,73 triliun (US$73,2 miliar) selama sebulan berikutnya untuk menopang nilai tukar yen. (DK)