Bank Sentral jadikan bunga overnight sebagai acuan
Rabu, 17 Juni 2026
JAKARTA - Bank Sentral China (People's Bank of China/PBOC) memberi sinyal perubahan besar dalam kerangka kebijakan moneternya dengan membuka peluang menjadikan suku bunga overnight sebagai acuan utama kebijakan.
Langkah tersebut dinilai akan membawa sistem moneter China lebih dekat dengan praktik bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed).
Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, mengatakan bank sentral akan memperkuat pengaturan suku bunga jangka pendek dan memperluas penggunaan instrumen reverse repo overnight pada waktu yang dianggap tepat.
Seperti dikutip Bloomberg, pernyataan yang disampaikan dalam Forum Lujiazui di Shanghai pada Rabu itu memperkuat spekulasi bahwa PBOC secara bertahap akan mengurangi peran suku bunga reverse repo tujuh hari sebagai tolok ukur utama kebijakan moneter.
Dalam beberapa bulan terakhir, bank sentral China semakin menaruh perhatian pada suku bunga pasar antarbank overnight yang mendominasi transaksi likuiditas harian di pasar keuangan domestik.
Pergeseran ke tenor yang lebih pendek diyakini akan memberikan fleksibilitas dan presisi lebih tinggi bagi otoritas moneter dalam mengarahkan kondisi pasar.
Karena lembaga keuangan secara rutin meminjam dana antarbank untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dan penyelesaian transaksi, suku bunga overnight menjadi instrumen yang paling aktif diperdagangkan dibandingkan tenor lainnya. Pengendalian yang lebih ketat terhadap suku bunga tersebut dinilai dapat meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor keuangan.
Langkah ini juga akan mendekatkan kerangka kebijakan PBOC dengan bank sentral besar lainnya seperti Federal Reserve yang menggunakan suku bunga overnight sebagai instrumen utama kebijakan.
Pan mengatakan PBOC akan menyempurnakan penggunaan operasi repo dan reverse repo overnight sementara dengan menetapkan suku bunganya masing-masing 25 basis poin di atas dan di bawah suku bunga reverse repo tujuh hari. Kebijakan tersebut mempersempit koridor suku bunga menjadi 50 basis poin dari sebelumnya 70 basis poin.
Menurut Pan, langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan efektivitas kerangka kebijakan berbasis harga.
“untuk mendorong transformasi kerangka kebijakan moneter ke model berbasis harga, dan untuk meningkatkan ketepatan dan efektivitas penyesuaian suku bunga jangka pendek oleh PBOC,” kata Pan.
Kepala Strategi Makro China Standard Chartered, Becky Liu, menilai perubahan tersebut mengarah pada pembentukan koridor kebijakan moneter baru dengan suku bunga repo overnight sebagai acuan utama.
“PBOC kemungkinan akan secara bertahap beralih ke kerangka koridor kebijakan moneter baru, dengan suku bunga repo semalam kemungkinan akan menjadi suku bunga kebijakan de facto yang baru,” kata Liu.
“Suku bunga antar bank di Tiongkok kemungkinan akan semakin tidak fluktuatif ke depannya.”
Federal Reserve saat ini menerapkan sistem serupa dengan menetapkan target kisaran suku bunga federal funds yang menjadi acuan pinjaman overnight antarbank. Rentang tersebut berada di level 3,50%-3,75%, lebih sempit dibanding koridor baru yang diumumkan PBOC.
Perubahan menuju suku bunga overnight menjadi kelanjutan reformasi kebijakan moneter yang dimulai PBOC sejak dua tahun lalu. Reformasi tersebut bertujuan menyederhanakan sistem yang sebelumnya bergantung pada berbagai instrumen kebijakan dan memusatkan sinyal moneter pada satu suku bunga utama.
Sejalan dengan itu, bank sentral juga secara bertahap mengurangi peran instrumen kebijakan bertenor lebih panjang melalui perubahan mekanisme penawaran dan penghapusan biaya yang seragam.
Pada Juli 2024, PBOC telah mengumumkan rencana penggunaan operasi repo dan reverse repo overnight sementara guna menjaga pergerakan suku bunga pasar dalam kisaran yang lebih sempit. Namun hingga kini instrumen tersebut belum diaktifkan.
Dari sisi prospek kebijakan, PBOC terakhir kali memangkas suku bunga reverse repo tujuh hari sebesar 10 basis poin menjadi 1,4% pada Mei 2025. Penurunan itu jauh lebih kecil dibanding ekspektasi sebagian ekonom yang memperkirakan pemangkasan 40-60 basis poin sepanjang tahun.
Sejumlah ekonom kini memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya baru terjadi pada 2027 setelah inflasi harga produsen meningkat akibat perang Iran dan kenaikan harga minyak. Meski demikian, lemahnya data konsumsi dan investasi yang dirilis pekan ini menunjukkan risiko perlambatan ekonomi masih meningkat dan dapat mendorong kebutuhan pelonggaran kebijakan.
Dalam beberapa pekan terakhir, PBOC juga mengarahkan suku bunga pendanaan overnight kembali mendekati level suku bunga kebijakan 1,4% setelah likuiditas yang melimpah sempat menekan biaya pinjaman antarbank hingga sekitar 1,2% dan memicu kekhawatiran terbentuknya gelembung di pasar obligasi.(DH)