Kevin Warsh diperkirakan akan pertahankan suku bunga The Fed
Rabu, 17 Juni 2026
WASHINGTON - Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan kebijakan pertamanya sejak menjabat sebagai pimpinan bank sentral AS.
Dikutip dari CNBC, hasil survei CNBC Fed Survey yang melibatkan 32 ekonom, manajer investasi, dan analis menunjukkan bahwa mayoritas responden memperkirakan The Fed tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan kali ini maupun hingga 2027.
Sebanyak 88% responden memperkirakan The Fed akan mengubah pernyataannya dan tidak lagi mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Warsh ditunjuk langsung oleh Presiden AS Donald Trump yang selama bertahun-tahun mendorong The Fed untuk menurunkan suku bunga. Namun, inflasi yang masih tinggi, yang salah satu penyebabnya dipicu oleh tarif impor Trump dan konflik dengan Iran, membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil.
Kepala Ekonom EY, Gregory Daco, mengatakan Warsh akan memimpin komite yang kini cenderung lebih hawkish dibandingkan sebelumnya.
"Jumlah pejabat The Fed belakangan menilai kenaikan suku bunga tetap perlu dipertimbangkan jika inflasi bertahan di atas target. Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi juga memperkuat pandangan tersebut," ujar Daco.
Warsh sebelumnya juga menyatakan suku bunga berpotensi lebih rendah, namun belum memberikan pembahasan lebih lanjut apakah pandangannya akan berubah setelah inflasi kembali meningkat dan pasar tenaga kerja menunjukkan kinerja yang kuat.
Meski demikian, responden survei tidak memperkirakan lonjakan harga minyak akan mendorong The Fed menaikkan suku bunga. Mereka memperkirakan suku bunga acuan akan bertahan di sekitar level saat ini, yaitu sebesar 3,62% hingga 2027.
Di sisi lain, prospek ekonomi AS dinilai tetap solid. Para responden meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, menurunkan probabilitas resesi dari 33% menjadi 25% pada April 2026 , serta memperkirakan tingkat pengangguran tetap relatif stabil.
Ekonom Hugh Johnson menilai kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja yang membaik menunjukkan tanda-tanda awal bahwa resesi belum terlihat.
Survei memperkirakan produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 2,2% pada tahun ini dan 2,3% pada tahun depan. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan akan bertahan di angka 4,3%.
Sejumlah responden menilai kondisi pasar tenaga kerja yang kuat membuat The Fed perlu lebih fokus pada upaya mengendalikan inflasi.
Penasihat ekonomi Brean Capital, John Ryding, mengatakan The Fed seharusnya mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna mencegah ekspektasi inflasi terus meningkat.
Selain kebijakan suku bunga, sejumlah gagasan Warsh terkait komunikasi The Fed juga mendapat dukungan. Sebanyak 59% responden menilai pejabat The Fed terlalu sering memberikan pernyataan pada publik.
Mayoritas responden juga mendukung penghapusan dot plot, yaitu proyeksi suku bunga yang diterbitkan pejabat The Fed untuk beberapa tahun ke depan.
Dalam survei tersebut, inflasi masih dipandang sebagai risiko terbesar bagi pertumbuhan ekonomi AS. Sementara itu, kekhawatiran bahwa valuasi saham AI sudah terlalu tinggi menjadi risiko utama berikutnya.
Sebanyak 84% responden menilai saham AI saat ini diperdagangkan pada valuasi yang terlalu tinggi. Rata-rata responden memperkirakan saham AI mengalami overvalued sekitar 21%.
Meski demikian, kekhawatiran terhadap risiko di pasar kredit mulai mereda. Sebanyak 53% responden menilai risiko sistemik masih berada pada level tinggi, turun dari 78% pada survei Maret lalu. (ARF)