Dolar menguat jelang rapat perdana The Fed dipimpin Kevin Warsh

Kamis, 18 Juni 2026

image

LONDON/SINGAPURA - Dolar Amerika Serikat menguat tipis terhadap sejumlah mata uang utama pada Rabu (17/6)  jelang keputusan kebijakan moneter pertama Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Dikutip dari Reuters, para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, investor tetap akan mencermati potensi perubahan gaya komunikasi dan arah kebijakan bank sentral AS di bawah Warsh.

Euro melemah 0,16% ke level US$1,1591, sementara pound sterling turun 0,15% ke US$1,34.

Dolar juga mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan atas aset aman setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman dengan Iran belum bersifat final dan operasi militer dapat kembali dilakukan apabila diperlukan.

Meski demikian, fokus utama pasar tetap tertuju pada hasil rapat The Fed yang akan diumumkan pada hari yang sama.

Pasar secara luas memperkirakan The Fed tidak akan mengubah suku bunga dalam pertemuan perdana Warsh sebagai ketua bank sentral.

Namun, investor akan mencermati pernyataan resmi, proyeksi ekonomi, serta konferensi pers untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya, terutama terkait sikap The Fed terhadap risiko inflasi.

Kepala Strategi Valuta Asing Rabobank, Jane Foley, mengatakan ketidakpastian masih tinggi terkait sinyal yang akan disampaikan Warsh.

Menurutnya, pasar tidak memperkirakan perubahan suku bunga, tetapi masih menunggu apakah Warsh akan mengubah pendekatan komunikasi The Fed atau memberikan panduan baru mengenai arah kebijakan moneter.

Salah satu fokus utama investor adalah proyeksi suku bunga pejabat The Fed yang dikenal sebagai dot plot, yakni grafik yang menunjukkan ekspektasi masing-masing pejabat terhadap suku bunga di masa mendatang.

Warsh ditunjuk oleh Trump untuk menggantikan Jerome Powell, yang sebelumnya kerap dikritik karena dianggap terlalu lambat dalam menurunkan suku bunga.

Saat ini, pasar uang bahkan mencerminkan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Sebelum tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran, sejumlah ekonom memperkirakan The Fed akan memberikan sinyal kesiapan menaikkan suku bunga guna meredam dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi.

Namun setelah harga minyak kembali turun ke bawah US$80 per barel, arah sinyal yang disampaikan The Fed akanmenjadi lebih sulit diprediksi.

Selain The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada Bank of England (BoE) yang akan menggelar rapat kebijakan pada Kamis (18/6).

Pasar juga memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga dan lebih fokus pada pandangan para pembuat kebijakan terhadap prospek inflasi.

Data terbaru menunjukkan inflasi Inggris bertahan di level 2,8% pada Mei, tidak berubah dibandingkan April yang merupakan level terendah dalam 13 bulan terakhir.

Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan di level 160,25 per dolar AS dan masih berada pada kisaran yang membuat pelaku pasar mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uang tersebut.

Pada Selasa (16/6), Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sebagai bagian dari normalisasi kebijakan moneter dan upaya meredam tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Di Eropa, krona Swedia melemah setelah bank sentral Swedia mempertahankan suku bunga acuannya. Riksbank menyatakan konflik di Timur Tengah meningkatkan tekanan inflasi, namun aktivitas ekonomi domestik masih relatif lemah. (ARF)