Gangguan pasokan di Tiongkok dan Indonesia dorong harga batu bara
Kamis, 18 Juni 2026
SINGAPURA/BEIJING - Kecelakaan tambang mematikan di wilayah penghasil batu bara terbesar Tiongkok serta ketidakpastian kebijakan ekspor batu bara Indonesia berpotensi menekan pasokan global dan mendorong kenaikan harga dalam beberapa bulan ke depan.
Dikutip dari Reuters, para analis dan pelaku industri menilai kondisi tersebut terjadi di tengah pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang masih terbatas akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akibat konflik tersebut mendorong Jepang dan Korea Selatan meningkatkan pembelian batu bara berkualitas tinggi.
Kondisi tersebut turut mengangkat harga batu bara acuan Newcastle mendekati level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, yakni di atas US$150 per ton.
Sementara itu, permintaan batu bara kualitas rendah asal Indonesia masih lemah karena Tiongkok dan India mengandalkan persediaan yang cukup serta peningkatan produksi energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah setelah ledakan di tambang batu bara di Provinsi Shanxi pada bulan lalu. Insiden tersebut memicu inspeksi keselamatan secara luas dan berpotensi mengurangi pasokan batu bara domestik Tiongkok.
CEO DBX Commodities Alexandre Claude, memperkirakan bahwa impor batu bara termal Tiongkok pada Juni akan meningkat 27,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 27,8 juta ton seiring meningkatnya permintaan musiman dan berkurangnya pasokan dalam negeri.
Di sisi lain, rencana pemerintah Indonesia untuk menempatkan seluruh ekspor batu bara di bawah pengelolaan perusahaan negara baru, Danantara, turut menambah ketidakpastian pasar.
"Pembatasan produksi di Shanxi dan transisi menuju Danantara telah memperketat pasokan batu bara di pasar internasional," kata Claude.
Menurutnya, cadangan batu bara yang sebelumnya menjadi penyangga pasokan mulai menipis. Dengan permintaan yang tetap kuat dan pasokan yang terbatas, risiko kenaikan harga dalam jangka pendek masih cukup besar.
Direktur Eksekutif McCloskey Scott Dendy mengatakan produksi batu bara termal Indonesia selama empat bulan pertama tahun ini turun 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ia memperkirakan ekspor batu bara Indonesia dapat turun sekitar 11% menjadi 446 juta ton tahun ini apabila laju produksi saat ini berlanjut.
Tekanan pasokan tersebut muncul ketika sejumlah negara Asia Tenggara justru meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Direktur I-Energy Resources Vasudev Pamnani mengatakan cuaca yang lebih panas meningkatkan konsumsi batu bara di Vietnam dan Filipina. Sementara itu, pasokan gas yang lebih terbatas di Thailand diperkirakan akan mendorong kenaikan impor batu bara pada tahun ini.
Rystad Energy memperkirakan dampak konflik Iran saja dapat menambah konsumsi batu bara di kawasan Asia Pasifik hingga 70 juta ton pada 2026.
Meski Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kerangka kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, para pelaku industri memperkirakan pemulihan pasokan energi ke tingkat normal masih membutuhkan waktu beberapa pekan.
Selain itu, Argus memperkirakan pasokan batu bara global akan turun 5,7% menjadi 985 juta ton pada 2026. Kondisi cuaca El Nino yang diperkirakan terjadi juga berpotensi meningkatkan permintaan energi di kawasan Asia.
Pengajar Ilmu Atmosfer Universitas Nanjing Peng Qihua, mengatakan kondisi kering di wilayah utara Tiongkok dapat menekan produksi listrik tenaga air, sementara suhu yang lebih tinggi akan meningkatkan penggunaan pendingin udara.
Penurunan produksi listrik tenaga air biasanya akan mendorong peningkatan konsumsi batu bara di Tiongkok.
Di sisi lain, negara-negara produsen utama juga menghadapi tantangan produksi. Dendy mengatakan sekitar dua pertiga produsen batu bara di Rusia saat ini beroperasi dalam kondisi merugi akibat penguatan rubel dan kenaikan biaya transportasi.
Sementara itu, ekspor batu bara Australia diperkirakan meningkat tahun ini, meskipun biaya penambangan yang lebih tinggi dan keterbatasan pasokan diesel berpotensi membatasi pertumbuhan produksi.
Menurut Pamnani, pembeli dari India juga mulai melirik pasokan batu bara dari Afrika Selatan sebagai alternatif di tengah ketidakpastian pasokan dari Indonesia. (ARF)