BIS peringatkan potensi double bubble, emas dan saham

Selasa, 09 Desember 2025

image

JAKARTA - Bank for International Settlements (BIS) menyoroti lonjakan harga emas dan saham yang naik bersamaan dan memperingatkan potensi terbentuknya “double bubble” pada kedua aset tersebut.Di saat pasar saham terus terdorong oleh reli teknologi dan artificial intelligence (AI), harga emas melonjak 60% sepanjang tahun ini, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.Seperti dikutip reuters.com, Senin (8/12), kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah peran emas sebagai aset safe haven telah berubah.“Emas bergerak sangat berbeda dibanding pola biasanya tahun ini,” ujar Hyun Song Shin, Penasihat Ekonomi BIS, saat merilis laporan akhir tahun lembaga tersebut pada Senin.“Fenomena menarik kali ini adalah emas makin menyerupai aset spekulatif.”

Sebagai lembaga yang dijuluki “bank sentralnya bank sentral”, BIS kerap memperingatkan potensi gelembung pasar saham.Namun, kecenderungan emas bergerak searah dengan saham membuat kekhawatiran mereka menjadi dua kali lipat: ke mana investor akan berlindung bila keduanya jatuh bersamaan, dan apa dampaknya bagi bank sentral yang telah agresif membeli emas.Analisis BIS menyimpulkan bahwa tahun ini merupakan kali pertama dalam 50 tahun emas dan indeks S&P 500 sama-sama menunjukkan perilaku 'eksplosif'.Selain naik 60% tahun ini, harga emas telah melonjak lebih dari 150% sejak 2022, dipicu lonjakan inflasi pascapandemi, invasi Rusia ke Ukraina, serta sanksi Barat terhadap Moskow.Tanda-tanda potensi gelembung juga terlihat dari meningkatnya partisipasi investor ritel. Harga ETF emas tercatat sering berada di atas nilai aset bersih (NAV), menandakan tekanan beli kuat dan hambatan arbitrase. Pembelian emas oleh bank sentral turut memperkokoh tren kenaikan harga.BIS juga memberi peringatan lebih luas soal meningkatnya kerentanan pasar di tengah kekhawatiran valuasi AI dan anjloknya harga aset kripto, termasuk bitcoin yang turun 20% baru-baru ini.Bank Sentral Eropa dan Bank of England juga mengungkapkan kekhawatiran serupa mengenai potensi gelembung AI dan risiko koreksi mendadak jika ekspektasi pasar tidak terpenuhi.Shin menyebut bahwa perbedaan utama pasar saat ini dibanding era gelembung dotcom adalah perusahaan AI saat ini sudah menghasilkan laba, meski tengah menggelontorkan investasi besar untuk pusat data.Namun, ia menekankan bahwa pertanyaan fundamentalnya adalah apakah pengeluaran besar itu akan terbukti layak dalam jangka panjang, serta bagaimana ketahanan ekonomi global pada tahun mendatang. (DK)