G7 tetapkan target untuk lepas dari impor tanah jarang China
Kamis, 18 Juni 2026
JAKARTA - Negara-negara anggota G7 bersepakat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan logam tanah jarang dari China dengan menetapkan target agar tidak ada satu negara pun yang memasok lebih dari 60% impor mineral strategis mereka pada 2030.
Seperti dikutip Fortune, komitmen yang diumumkan dalam pernyataan bersama pada KTT G7 di Prancis itu merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang membangun rantai pasok alternatif untuk bahan baku yang digunakan dalam industri pertahanan, energi bersih, dan teknologi tinggi.
Para pemimpin G7 juga menargetkan porsi pasokan dari satu negara dapat ditekan hingga 50% sesegera mungkin. Langkah tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran negara-negara Barat terhadap dominasi China dalam rantai pasok logam tanah jarang global.
Data terbaru menunjukkan China menguasai hampir 70% produksi logam tanah jarang dunia. Dominasi Beijing bahkan lebih besar pada sektor magnet permanen berbasis tanah jarang, dengan pangsa sekitar 95% dari kapasitas produksi global.
“Ini jelas merupakan target yang berani,” kata Chief Executive Officer Cirba Solutions David Klanecky, yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di sektor mineral kritis.
“Jika Anda tidak menetapkan tujuan pada target yang ingin dicapai orang, maka tidak akan terjadi apa-apa,” ujarnya.
Langkah G7 juga dipicu kekhawatiran atas kebijakan ekspor China. Beijing dijadwalkan kembali memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang tertentu yang penting bagi sistem pertahanan mulai 10 November.
Kebijakan tersebut sebelumnya ditunda sebagai bagian dari gencatan perang dagang selama satu tahun antara China dan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Juni, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang menyumbang lebih dari separuh impor magnet tanah jarang dunia, sementara China menjadi pemasok utama.
Magnet permanen berbasis tanah jarang merupakan komponen penting dalam produksi drone, senjata presisi, kendaraan listrik, dan turbin angin. Goldman Sachs menyebut komponen tersebut sebagai salah satu titik rawan strategis bagi keamanan nasional negara-negara Barat.
Laporan PBB juga mencatat China telah menerapkan 16 kebijakan pembatasan perdagangan terhadap mineral kritis sejak 2020. Sejumlah kebijakan tersebut membatasi akses pasokan ke Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan aktivitas ekonomi global senilai hingga US$6,5 triliun per tahun di luar China berpotensi terdampak apabila pembatasan ekspor tersebut diterapkan secara penuh.
“Skenario terburuknya adalah tidak ada pasokan baru dari China yang masuk ke pasar dalam empat tahun ke depan. Kita juga menghadapi China yang semakin agresif di Selat Taiwan, sementara pada saat yang sama kita tetap bergantung pada impor dari China untuk membangun teknologi militer,” kata Meredith Schwartz, Associate Fellow pada Program Keamanan Mineral Kritis di Center for Strategic and International Studies (CSIS).
“China dapat terus memanfaatkan posisi dominannya sebagai titik kendali ekonomi untuk memutus akses industri kita terhadap material-material penting tersebut.”
Di tengah upaya mengurangi ketergantungan tersebut, sejumlah perusahaan Amerika Serikat mulai memperluas kapasitas produksi logam tanah jarang.
USA Rare Earth tengah membangun rantai pasok terpadu mulai dari tambang hingga produksi magnet permanen. Perusahaan itu memperoleh insentif federal sebesar US$277 juta melalui CHIPS and Science Act untuk mengembangkan kapasitas produksi hingga 10.000 ton paduan logam tanah jarang per tahun.
Juru Bicara USA Rare Earth mengatakan perusahaan menyambut baik komitmen G7 untuk membangun rantai nilai logam tanah jarang di negara-negara Barat.
“Kami yakin USA Rare Earth berada pada posisi yang tepat untuk memproduksi magnet permanen neodymium-besi-boron (NdFeB) yang disinter secara komersial dan secara aktif membangun rantai nilai untuk meningkatkan produksi,” kata perusahaan tersebut.
Selain USA Rare Earth, MP Materials juga memperluas fasilitas pengolahan logam tanah jarang di Fort Worth, Texas, dan Mountain Pass, California. Mountain Pass saat ini merupakan satu-satunya tambang logam tanah jarang berskala komersial di Amerika Serikat.(DH)