Pemimpin G7 menilai sikap Amerika terhadap Ukraina berubah
Kamis, 18 Juni 2026
JAKARTA - Sejumlah pemimpin G7 mengeaskan dukungan terhadap Ukraina dan menilai sikap Amerika mulai berubah terhadap negara yang diserang Rusia tersebut.
Seperti dikutip Channelnewsasia, dalam pertemuan yang berlangsung pada 15-17 Juni itu, para pemimpin G7 mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan dukungan kepada Ukraina. Langkah tersebut dinilai memperkuat posisi Kyiv dalam setiap potensi perundingan damai dengan Moskow.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sebelumnya berupaya meyakinkan Trump bahwa serangan balasan Ukraina telah mengubah dinamika perang dan membuat Rusia tidak berada dalam posisi untuk menentukan syarat perdamaian secara sepihak.
Sejumlah pemimpin G7 menilai sikap Washington terhadap perang Ukraina mulai berubah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut pendekatan terbaru Amerika Serikat sebagai perubahan nyata, sementara Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan para pemimpin G7 berhasil menemukan titik temu dengan Trump. Perdana Menteri Kanada Mark Carney juga memuji perubahan sikap Presiden AS tersebut.
Meski demikian, upaya mendorong Rusia ke meja perundingan masih sangat bergantung pada langkah yang akan diambil Trump.
Saat memasuki sesi pembahasan keamanan ekonomi global, Trump menyampaikan kepada para pemimpin G7 dan wartawan, "Saya bosnya."
Tekanan Baru ke Rusia
Perubahan perhitungan Washington juga dipengaruhi perkembangan di Timur Tengah. Para pemimpin G7 menyambut kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik dan memulihkan pasokan energi global.
Trump menegaskan nota kesepahaman dengan Teheran belum bersifat final.
"Kalau saya tidak menyukainya, kalau mereka tidak berperilaku baik, kami akan kembali menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka, oke?" kata Trump.
Meredanya konflik Iran berpotensi mengembalikan pasokan minyak Timur Tengah ke pasar internasional. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Washington untuk kembali memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak Rusia yang sebelumnya dilonggarkan demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
Departemen Keuangan AS pada Rabu tidak menerbitkan perpanjangan pengecualian sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia melalui jalur laut yang berakhir pada tengah malam. Namun hingga kini pemerintah AS belum memastikan apakah sanksi tersebut akan diberlakukan kembali.
Selama konflik Iran berlangsung, pemerintahan Trump memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi minyak Rusia guna membantu negara-negara yang rentan terhadap gejolak energi.
Trump mengatakan pemerintahannya masih mengkaji langkah tersebut.
"Kami sedang mempertimbangkannya. Kami melihat seberapa jauh harga minyak turun. Harganya benar-benar merosot," ujar Trump kepada wartawan di sela-sela KTT G7.
Sehari sebelumnya, Trump juga mengisyaratkan bahwa Washington segera memiliki ruang untuk mengakhiri pengecualian sanksi tersebut.
"Sebentar lagi kami akan bisa melakukannya karena minyak kini sudah kembali mengalir," kata Trump merujuk pada pulihnya pasokan minyak dari Timur Tengah.
Pemerintahan Trump tahun lalu menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan energi Rusia Rosneft dan Lukoil sebagai bagian dari upaya menekan Moskow agar mengakhiri perang di Ukraina.
Rusia merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia bersama Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Di sisi lain, seorang pejabat senior AS mengatakan Iran dapat segera kembali mengekspor minyak setelah penandatanganan resmi kesepakatan yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Namun normalisasi penuh produksi dan ekspor energi Iran diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa bulan.
Sementara itu, utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner yang memimpin upaya diplomasi Washington terkait Ukraina dijadwalkan mengunjungi Rusia dalam waktu dekat, menurut Kremlin.
Selain membahas Ukraina dan Iran, para pemimpin G7 juga sepakat memperkuat koordinasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan mineral kritis.
Mereka turut membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), termasuk tanggung jawab hukum agen AI dan risiko penyebaran informasi yang menyesatkan.(DH)