Israel tak dilibatkan dalam perdamaian Iran-AS, Netanyahu tertekan
Kamis, 18 Juni 2026
TEL AVIV - Pemerintah Israel tidak diperlihatkan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) yang disusun untuk mengakhiri perang dengan Iran, kata seorang pejabat pemerintah Israel kepada NBC News pada Rabu.
Seperti dikutip NBC NEWS, hal ini menjadi tanda terbaru meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel.
Tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa ia telah memberikan salinan MOU tersebut kepada Israel, sumber yang sama menyebutkan bahwa pemerintah Israel masih belum melihat draf dokumen itu.
Sumber tersebut juga menolak berkomentar apakah diplomat Israel telah meminta akses terhadap teks tersebut dan ditolak.
Tidak dilibatkannya Israel dalam perundingan yang menghasilkan MOU tersebut menjadi hambatan serius bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang akan menghadapi pemilu penting sebelum akhir Oktober.
Kerangka kesepakatan itu kemudian diberikan kepada NBC News oleh seorang pejabat senior AS pada Rabu.
Penilaian publik Israel terhadap kinerja Netanyahu kini berhadapan dengan Trump yang semakin tidak sabar.
Serangan verbal Trump terhadap Netanyahu dalam beberapa hari terakhir mengguncang posisi Israel yang kian terisolasi di panggung internasional. “Tanpa saya, tidak akan ada Israel,” kata Trump dalam KTT G7 pada Selasa.
Ia menyebut Netanyahu “gila” dan menggunakan kata-kata kasar untuk menggambarkan buruknya penilaian sang Perdana Menteri.
Trump secara khusus menyoroti serangan berlanjut Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Konflik tersebut telah membuat lebih dari satu juta orang mengungsi dan menewaskan lebih dari 3.500 orang, serta sebelumnya menggagalkan pembicaraan dengan Iran.
Trump secara terbuka mengkritik serangan Israel di Lebanon yang dinilainya tidak proporsional.
“Terlalu banyak orang yang terbunuh,” kata Trump dalam KTT G7 di Prancis.
“Anda tidak perlu merobohkan satu gedung apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di dalam gedung itu dan tidak semuanya anggota Hizbullah.”
Netanyahu belum memberikan tanggapan publik atas komentar Trump tersebut.
Dengan Iran dan AS dijadwalkan menandatangani draf kesepakatan pada Jumat, Netanyahu juga menghadapi tekanan dari publik Israel.
Negara itu terlibat perang melawan Iran bersama AS pada akhir Februari dan harus menghadapi serangan balasan Iran berupa rudal balistik serta drone selama berminggu-minggu.
Pemerintahan Netanyahu dikritik karena dianggap tidak cukup jauh dalam melemahkan Iran—yang dipandang banyak warga Israel sebagai ancaman eksistensial—serta kelompok proksinya, Hizbullah, di Lebanon.
Dalam survei yang diterbitkan dua pekan lalu oleh Israel Democracy Institute, sebanyak 57,5% warga Israel menyatakan bahwa mengakhiri konflik dengan kerangka kesepakatan yang sedang dibahas saat ini tidak sejalan dengan kepentingan keamanan Israel.
Lawan-lawan politik Netanyahu pun melontarkan kritik keras.
Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, mengatakan bahwa Israel kini harus membayar harga atas “kesombongan dan kebutaan” Netanyahu serta upayanya memanipulasi Trump.
“Iran muncul lebih kuat, Israel muncul lebih lemah. Itu adalah tanggung jawab strategis Netanyahu. Dia gagal,” ujar Barak.
Sementara itu, pemimpin oposisi Yair Lapid, yang diperkirakan akan menjadi penantang utama Netanyahu dalam pemilu tahun ini, menyebut kerangka kesepakatan tersebut sebagai “salah satu kegagalan paling mengejutkan dalam kebijakan luar negeri dan keamanan Israel.”
Dalam pidatonya pada Senin malam, Netanyahu membela keputusan berperang melawan Iran, tetapi mengakui bahwa dirinya belum meninjau draf kesepakatan tersebut.
“Kami telah menghilangkan, untuk bertahun-tahun ke depan, ancaman pemusnahan penduduk Israel yang menggantung di atas kami. Kami menyelamatkan Negara Israel dari kehancuran,” kata Netanyahu, sembari kembali menyebut ancaman nuklir Iran sebagai “bahaya yang langsung dan nyata.”
Menjawab pertanyaan wartawan, Netanyahu menepis anggapan bahwa hubungannya dengan Trump memburuk.
“Sering kali kami memiliki pandangan yang sama, dan ada juga situasi ketika kami tidak sepenuhnya sependapat,” ujarnya.
Ia juga menanggapi kritik yang terus berkembang dari lawan maupun sekutunya yang menilai dirinya tidak cukup tegas menghadapi Trump.
“Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel. Saya membelanya,” kata Netanyahu.
Belum jelas apakah Israel akan ikut serta dalam perundingan berikutnya, yang menurut Iran akan dimulai di Jenewa pada hari penandatanganan kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, pada Selasa menyatakan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon serta kehadiran militernya di negara tersebut melanggar ketentuan MOU.
Meski perbatasan utara Israel relatif tenang sejak Trump mengumumkan kesepakatan itu pada Minggu malam, bentrokan antara Israel dan Hizbullah masih terus berlangsung di wilayah Lebanon selatan. (DK)