Nvidia terbitkan obligasi jumbo senilai US$25 miliar

Kamis, 18 Juni 2026

image

NEW YORK - Nvidia (NVDA) masuk ke pasar obligasi investment-grade untuk pertama kalinya sejak 2021 dengan penerbitan utang besar senilai US$25 miliar.

Penawaran awal yang ditargetkan sebesar US$20 miliar itu kemudian ditingkatkan setelah permintaan investor melonjak hingga sekitar US$85 miliar, atau lebih dari tiga kali lipat dari jumlah yang ditawarkan, menurut laporan Bloomberg.

Seperti dikutip TheStreet, penerbitan obligasi tersebut dibagi ke dalam tujuh tranche dengan tenor antara dua hingga 30 tahun.

Obligasi dengan jatuh tempo terpanjang (hingga 2056) dipatok dengan premi sekitar 0,65 poin persentase di atas imbal hasil US Treasury.

Meski memiliki kondisi keuangan yang kuat, dengan kas sekitar US$13,2 miliar per April 2026 dan arus kas besar dari bisnis chip AI, Nvidia disebut tidak menerbitkan utang karena kebutuhan dana mendesak.

Menurut Bloomberg, langkah ini lebih bertujuan untuk membangun benchmark kredit di pasar obligasi investment-grade, sekaligus meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan ke depan.

Dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan terutama untuk refinancing utang yang ada serta keperluan umum perusahaan, berdasarkan pengajuan ke SEC.

Tingginya permintaan hingga US$85 miliar menjadi sorotan utama pasar. Angka tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap stabilitas keuangan Nvidia dan prospek jangka panjang industri kecerdasan buatan (AI).

Investor obligasi yang cenderung konservatif menilai kekuatan neraca, arus kas, dan kemampuan perusahaan dalam membayar kembali utang. Oversubscription besar ini mencerminkan keyakinan bahwa siklus investasi infrastruktur AI masih memiliki ruang pertumbuhan yang panjang.

Penerbitan obligasi Nvidia juga sejalan dengan tren lebih luas di industri teknologi. Alphabet baru-baru ini menerbitkan obligasi senilai US$20 miliar, sementara Amazon juga aktif di pasar utang untuk mendanai belanja modal terkait AI.

Fenomena ini disebut sebagai “gelombang utang AI”, di mana perusahaan teknologi besar memanfaatkan pasar obligasi untuk membiayai investasi infrastruktur kecerdasan buatan yang terus meningkat.

Saham Nvidia dilaporkan naik sekitar 3,5% setelah pengumuman penerbitan obligasi tersebut, mencerminkan persepsi pasar bahwa langkah ini merupakan sinyal kepercayaan, bukan tekanan keuangan.

Para analis menilai bahwa penerbitan obligasi ini juga memberi fleksibilitas bagi Nvidia untuk mendukung ekspansi jangka panjang, termasuk riset, pengembangan chip baru, serta potensi akuisisi di masa depan.

Dengan permintaan yang sangat tinggi dan skala penerbitan yang besar, pasar obligasi kini semakin menegaskan posisi Nvidia sebagai salah satu perusahaan teknologi paling kredibel di sektor AI global. (DK)