AS-Iran sepakat damai, harga bensin AS kembali di bawah US$4

Kamis, 18 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga bensin di Amerika Serikat turun di bawah US$4 per galon untuk pertama kalinya sejak Maret.

Seperti dikutip Bloomberg, Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin reguler tanpa timbal secara nasional berada di level US$3,999 per galon pada Kamis (18/6).

Penurunan terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang serta membuka kembali Selat Hormuz.

Harga bahan bakar di SPBU telah turun signifikan dari puncaknya yang menembus US$4,50 per galon pada Mei. Koreksi tersebut didorong melemahnya harga minyak mentah dunia yang kini bergerak di bawah US$80 per barel.

Tekanan terhadap harga minyak muncul seiring meningkatnya ekspor minyak AS ke level rekor, perlambatan permintaan China yang lebih dalam dari perkiraan, serta tetap mengalirnya pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Meski demikian, harga bensin saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah. Sejumlah analis menilai harga kemungkinan belum akan kembali ke level sebelum perang hingga tahun depan.

Selama periode kenaikan harga energi, rumah tangga AS menghadapi tekanan pengeluaran yang lebih besar karena ketergantungan tinggi terhadap kendaraan pribadi. Kenaikan biaya bahan bakar turut mendorong inflasi dan mengurangi ruang belanja masyarakat untuk kebutuhan non-primer.

Penurunan harga bensin juga memberi keuntungan politik bagi Gedung Putih dan Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan harga energi akan turun setelah perang berakhir.

Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, isu harga bahan bakar menjadi salah satu tema utama dalam persaingan politik antara Partai Republik dan Partai Demokrat.

Pemerintah AS sebelumnya mengambil sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga energi, termasuk memberikan pengecualian terhadap penerapan Jones Act serta melepas cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR).(DH)