Gelombang IPO jumbo dorong kebangkitan kembali SPAC
Jumat, 19 Juni 2026
NEW YORK - Special Purpose Acquisition Company (SPAC) kembali menarik perhatian pelaku pasar di tengah gelombang penawaran saham perdana (IPO) berskala besar yang diperkirakan akan meramaikan pasar modal Amerika Serikat.
Dikutip dari Reuters, analis menilai kehadiran IPO jumbo dari sejumlah perusahaan besar dapat membuka peluang bagi perusahaan yang lebih kecil untuk melantai di bursa melalui skema SPAC.
SPAC merupakan perusahaan cangkang yang telah tercatat di bursa dan dibentuk khusus untuk mengakuisisi atau bergabung dengan perusahaan privat. Melalui mekanisme ini, perusahaan privat dapat menjadi perusahaan publik tanpa harus melalui proses IPO konvensional.
Data Dealogic menunjukkan terdapat 44 transaksi SPAC senilai sekitar US$36,9 miliar yang diumumkan secara global sepanjang tahun ini. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat 33 transaksi senilai US$15 miliar.
Sementara itu, SPAC Research mencatat dana yang telah dihimpun SPAC namun belum digunakan mencapai sekitar US$56,8 miliar Rabu (17/6).
Menurut sejumlah pelaku industri, sektor energi, pertahanan, mineral kritis, energi nuklir, industri antariksa, dan aset kripto menjadi bidang yang paling berpotensi memanfaatkan skema SPAC.
Selain itu, perusahaan internasional berukuran kecil yang ingin mengakses pasar modal Amerika Serikat juga dinilai berpeluang memanfaatkan jalur tersebut.
Minat terhadap SPAC kembali meningkat seiring prospek IPO besar dari sejumlah perusahaan teknologi. SpaceX disebut memulai gelombang IPO jumbo, sementara perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) seperti Anthropic dan OpenAI juga disebut bersiap melantai di bursa AS tahun ini.
Kepala Investasi Running Point Capital Advisors, Michael Ashley Schulman, mengatakan gelombang IPO besar berpotensi menyerap sebagian besar perhatian investor dan aliran modal pasar.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyulitkan perusahaan yang lebih kecil untuk menarik minat investor melalui IPO tradisional.
"SPAC dapat menjadi jalur alternatif yang lebih cepat untuk melantai ke pasar saham," ujar Schulman.
Analis IPOX Research Lukas Muehlbauer mengatakan bahwa sebagian perusahaan yang sebelumnya mempertimbangkan IPO konvensional kini mulai melihat opsi merger dengan SPAC sebagai alternatif.
Menurutnya, masih banyak dana yang telah dihimpun SPAC dan perlu segera disalurkan ke berbagai transaksi sebelum masa operasional perusahaan tersebut berakhir.
Data Dealogic menunjukkan sebanyak 145 SPAC baru melantai di pasar Amerika Serikat sepanjang 2025, menjadi jumlah tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga pertengahan Juni 2026, terdapat 107 perusahaan cek kosong (SPAC) yang tercatat di bursa Amerika Serikat, meningkat dari 57 perusahaan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kebangkitan aktivitas tersebut juga mendorong kembalinya sejumlah sponsor SPAC yang pernah aktif pada masa puncak popularitas instrumen tersebut, termasuk investor Chamath Palihapitiya.
Menurut sumber di sektor perbankan, perusahaan dengan valuasi di bawah US$3 miliar kini semakin sering mempertimbangkan dua jalur sekaligus, yakni IPO konvensional maupun merger dengan SPAC.
Kepala Dynamix, Andrejka Bernatova, mengatakan SPAC dapat menjadi cara yang lebih cepat untuk membawa perusahaan ke pasar saham ketika kondisi pasar mendukung.
Ia menambahkan proses penggalangan dana melalui SPAC dapat berlangsung hanya dalam hitungan hari, sementara proses menuju pencatatan saham dapat diselesaikan dalam beberapa minggu.
Sejumlah transaksi terbaru turut mencerminkan meningkatnya aktivitas SPAC. Pada Maret lalu, Controlled Thermal Resources menyepakati merger SPAC senilai US$4,7 miliar, sementara ProLogium Technology mengumumkan transaksi SPAC senilai US$3,8 miliar.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa tingkat penarikan dana investor setelah pengumuman merger masih menjadi salah satu tantangan utama bagi SPAC.
Namun secara keseluruhan, meningkatnya aktivitas transaksi dan kembalinya sponsor ke pasar menunjukkan SPAC kembali menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan perusahaan untuk mengakses pasar modal Amerika Serikat. (ARF)