IEA perkirakan surplus pasokan minyak pada 2027

Kamis, 18 Juni 2026

image

LONDON - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan pasar minyak global akan mengalami surplus pasokan yang signifikan pada 2027 seiring pulihnya arus pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Dikutip dari Reuters, proyeksi tersebut disampaikan setelah Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan sementara dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade laut oleh AS.

IEA memperkirakan konflik tersebut telah menghambat produksi minyak lebih dari 14 juta barel per hari dari kawasan Timur Tengah.

Lembaga tersebut memperkirakan pasokan minyak akan pulih secara bertahap setelah blokade dicabut dan ekspor minyak Iran kembali normal.

Meski demikian, IEA menghimbau masih adanya  risiko yang dapat menghambat pemulihan pasokan, termasuk proses pembersihan ranjau berkepanjangan serta berbagai kendala operasional dan politik terkait lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.

Menurut IEA, pasar minyak berpotensi memasuki periode kelebihan pasokan pada tahun depan setelah pemulihan tersebut berlangsung.

Pasokan minyak global diperkirakan meningkat sekitar 8 juta barel per hari, sementara permintaan hanya bertambah sekitar 2 juta barel per hari.

Kondisi surplus tersebut dapat memberikan kesempatan bagi berbagai negara untuk mengisi kembali cadangan minyak yang sempat terdampak dan  membangun cadangan strategis baru.

Namun, IEA menilai persediaan minyak global masih berpotensi turun ke level terendah sebelum pasar beralih ke kondisi surplus.

Selat Hormuz Mulai Pulih

Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hanya akan pulih hingga sekitar 70% dari level sebelum perang, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Seperti dikutip Theedgemalaysia, dalam laporan tertanggal 17 Juni, analis Goldman Sachs yang dipimpin Yulia Zhestkova Grigsby menyebut normalisasi ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju level sebelum perang memerlukan tambahan arus sekitar 13 juta barel per hari melalui Selat Hormuz dibandingkan kondisi saat ini.

“Normalisasi ekspor Teluk ke tingkat sebelum perang ini mungkin dapat dicapai dengan peningkatan aliran Hormuz sebesar 13 juta barel per hari dari tingkat saat ini,” tulis para analis.

Goldman memperkirakan peningkatan pengiriman minyak dapat tercapai pada akhir Juli 2026, sementara produksi minyak di kawasan Teluk berpotensi pulih sepenuhnya pada Oktober mendatang. (ARF)