Efisiensi, Unilever gunakan digital twin berbasis AI
Kamis, 18 Juni 2026
JAKARTA - Perusahaan induk PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Unilever Plc memperluas penerapan teknologi digital twin di jaringan manufaktur globalnya dengan dukungan Accenture.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional, kualitas produk, dan keberlanjutan.
Digital twin merupakan model virtual dari peralatan pabrik dan lini produksi yang memanfaatkan data langsung dari sistem fisik di lapangan untuk memantau serta memprediksi kinerja mesin dan proses produksi.
Dengan mengintegrasikan digital twin dengan wawasan berbasis AI dan kemampuan agentic AI, Unilever membekali tim manufakturnya dengan alat yang lebih canggih untuk mendeteksi masalah lebih dini, mensimulasikan berbagai skenario dengan lebih cepat, dan mengambil keputusan yang lebih tepat di seluruh siklus produksi.
Perusahaan berencana memperluas adopsi teknologi tersebut dalam 18 bulan ke depan dengan membangun lebih dari 40 digital twin baru sebagai cetak biru yang dapat diterapkan secara global.
“Meningkatkan skala AI di seluruh operasi kami bukan hanya perubahan teknologi, tetapi juga komitmen terhadap produk yang lebih unggul, keberlanjutan, dan pemberdayaan tim kami di berbagai pabrik,” ujar Adam Raeburn-James, Global Vice President Digital Business Operations Unilever, dalam keterangan tertulis di laman resmi Unilever, Selasa (16/6).
Melalui kemitraan dengan Accenture untuk mempercepat penerapan digital twin, kami mengubah inovasi menjadi dampak yang terukur guna menciptakan merek-merek yang dicintai oleh 3,7 miliar konsumen kami di seluruh dunia,”
Sementara itu, Nicole van Det, CEO Accenture Belanda dan Nordik sekaligus Global Account Lead untuk Unilever, menilai ekspansi penggunaan digital twin menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pengembangan teknologi dan sumber daya manusia secara bersamaan.
“Unilever telah lama dikenal karena keunggulannya dalam rantai pasok, dan perluasan penggunaan digital twin di manufaktur mencerminkan fokus berkelanjutan perusahaan terhadap teknologi dan manusia,” kata Nicole.
Dengan berinvestasi lebih awal pada AI, Unilever menetapkan standar dalam menggabungkan teknologi canggih dengan desain proses yang cerdas dan eksekusi yang disiplin di lantai produksi. Bersama-sama, kami membangun tolok ukur baru tentang bagaimana AI industri dapat menciptakan nilai jangka panjang di sektor barang konsumsi.
Accenture mendukung Unilever dalam penerapan kemampuan AI industri yang memanfaatkan analitik tingkat lanjut dan agen AI untuk memprediksi kebutuhan pemeliharaan, meningkatkan performa operasional, serta membantu tim bertindak lebih cepat.
Seiring sistem terus belajar dan tingkat kepercayaan karyawan terhadap akurasinya meningkat, teknologi tersebut juga dapat mengambil alih sejumlah penyesuaian operasional secara otomatis dengan tetap berada di bawah pengawasan manusia.
Dampak Nyata di Berbagai Pabrik
Unilever menyebut teknologi digital twin telah memberikan manfaat nyata di sejumlah fasilitas produksinya di berbagai negara.
Di Raeford, North Carolina, Amerika Serikat, digital twin yang mendukung produksi merek-merek perawatan pribadi seperti Dove, Degree, dan Axe mampu memprediksi 95% hambatan aliran proses dalam produksi deodoran stik. Hasilnya, limbah produksi berkurang 20% dan kapasitas produksi meningkat 10%.
Di Haldia, India, fasilitas yang memproduksi deterjen bubuk Surf dan Sunlight memanfaatkan energy twin untuk mengoptimalkan kecepatan kipas, pengaturan suhu, dan kontrol kelembapan.
Upaya tersebut membantu menurunkan konsumsi energi termal selama dua tahun terakhir dan mendukung target iklim Scope 1 dan Scope 2 perusahaan.
Sementara itu, di Poznan, Polandia, pabrik yang memproduksi Knorr dan Hellmann’s menggunakan digital twin untuk menjaga konsistensi viskositas mayones.
Teknologi ini berhasil mengurangi gangguan produksi kecil hingga 20% dan memangkas limbah hampir 30%.
Di Gandhidham, India, salah satu fasilitas perawatan pribadi terbesar Unilever di Asia Selatan, digital twin membantu menurunkan cacat kualitas produk sabun Dove sebesar 30% dalam empat tahun melalui rekomendasi pengendalian secara real-time.
Adapun di Cu Chi, Vietnam, tempat produksi produk perawatan rumah tangga cair seperti deterjen OMO, digital twin berbasis AI digunakan pada sistem pencampuran cerdas untuk mengoptimalkan dosis bahan baku.
Implementasi tersebut menghasilkan penghematan 1–2% penggunaan bahan premium tanpa mengorbankan kualitas produk.
Diakui Forum Ekonomi Dunia
Keunggulan operasional, efisiensi, dan pertumbuhan berkelanjutan Unilever dalam rantai pasoknya telah mendapat pengakuan dari World Economic Forum (WEF) melalui Global Lighthouse Network, di mana Unilever menjadi perusahaan barang konsumsi dengan jumlah pengakuan terbanyak dalam jaringan tersebut.
Kemitraan manufaktur berbasis AI antara Unilever dan Accenture juga melanjutkan berbagai inisiatif transformasi digital yang sebelumnya telah dijalankan perusahaan, termasuk identifikasi dan pengujian solusi AI generasi berikutnya melalui AI Horizon3 Lab di Toronto, Kanada.
Di Indonesia pun, lengan bisnis Unilever Plc, UNVR menjadikan efisiensi dan disiplin biaya sebagai salah satu strategi UNVR menghadapi tantangan 2026 seperti pelemahan rupiah dan keterbatasan pasokan.
Efisiensi ini berhasil membawa kinerja yang memuaskan, dengan laba bersih naik 86% di kuartal I 2026, dan gross margin profit menyentuh 48,8%.
Untuk 2026, UNVR bahkan masih menargetkan peningkatan margin laba kotor yang moderat, meski tidak memberikan target yang gamblang.
Benji Yap, Presiden Direktur UNVR, juga meyakini bahwa ekosistem grup Unilever dapat membantu Perseroan bertahan di tengah gangguan pasokan bahan baku.
“Kami memiliki skala pengadaan dan pembelian bahan baku di berbagai negara di Asia, yang memberikan keunggulan bagi kami dalam mengamankan bahan baku yang dibutuhkan, pada harga yang sesuai, serta dengan dukungan mata uang yang diperlukan,” jelas Benji lebih lanjut. (DK/ZH)