Perang Iran dorong negara Teluk cari alternatif Selat Hormuz

Jumat, 19 Juni 2026

image

JAKARTA - Perang Iran menjadi peringatan bagi negara-negara Teluk untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz melalui diversifikasi jalur ekspor minyak dan gas.

Dikutip dari Reuters, kolumnis energi Ron Bousso menilai penutupan Selat Hormuz selama konflik Iran telah mengubah pandangan kawasan terhadap risiko gangguan pasokan energi.

Sebelumnya, banyak pihak menganggap blokade Selat Hormuz sebagai skenario ekstrem yang kecil kemungkinannya terjadi. Namun, konflik terbaru menunjukkan bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut dapat terjadi dan menimbulkan dampak besar terhadap pasar energi global.

Penutupan Selat Hormuz sempat menghambat sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia. Kondisi tersebut memaksa sejumlah negara menghentikan sebagian produksi minyak, kilang, serta fasilitas LNG.

Meski Amerika Serikat dan Iran telah sepakat memulai perundingan menuju perdamaian permanen, risiko gangguan terhadap Selat Hormuz dinilai akan tetap membayangi kawasan dalam jangka panjang.

Akibatnya, pembangunan jalur alternatif untuk ekspor energi, petrokimia, dan pupuk kini menjadi prioritas strategis bagi negara-negara Teluk.

Arab Saudi menjadi salah satu contoh negara yang relatif lebih siap menghadapi gangguan di Selat Hormuz. Sebelum konflik, sekitar 60% ekspor minyak negara tersebut dialihkan ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui jaringan pipa lintas wilayah yang dibangun sejak 1980-an.

Menurut Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), ekonomi Arab Saudi diperkirakan tetap tumbuh 3,1% pada 2026, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelum perang.

Sebaliknya, Qatar yang tidak memiliki jalur alternatif untuk ekspor minyak dan LNG diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 8,6% tahun ini setelah mencatat pertumbuhan 2,8% pada 2025.

Uni Emirat Arab (UEA) juga mampu mempertahankan sebagian ekspornya melalui terminal minyak Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz. Pemerintah Abu Dhabi kini mempercepat pembangunan pipa kedua menuju Fujairah untuk meningkatkan kapasitas ekspor pada 2027.

Sementara itu, Irak masih sangat bergantung pada Selat Hormuz karena sebagian besar produksi minyaknya berada di wilayah selatan. Pemerintah dan pelaku industri kini mengkaji pengembangan jalur ekspor melalui Turki dan Suriah meski masih menghadapi tantangan keamanan dan politik.

Qatar dan Kuwait menghadapi tantangan yang lebih besar karena tidak memiliki jalur alternatif ekspor di wilayahnya sendiri. Kedua negara kemungkinan harus bergantung pada negara tetangga untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Selain membangun infrastruktur baru, sejumlah perusahaan energi nasional di kawasan Teluk juga mulai memperluas investasi ke luar negeri sebagai strategi diversifikasi risiko.

QatarEnergy dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) termasuk perusahaan yang aktif membangun portofolio internasional di sektor minyak, gas, dan energi terbarukan.

Menurut Bousso, perlombaan diversifikasi tersebut berpotensi mengubah pola investasi, strategi pemerintah, serta hubungan geopolitik di Timur Tengah selama beberapa dekade mendatang. (ARF)