AMAR tak buru-buru naikkan bunga kredit usai BI Rate naik

Kamis, 18 Juni 2026

image

JAKARTA – Di tengah kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI), PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) memutuskan untuk memantau pasar dan permintaan kredit dari nasabah sebelum ikut menaikkan suku bunga pinjaman.

“Jadi kita tidak akan langsung menyesuaikan suku bunga kita, namun kita bagaimana agar tetap kompetitif … Karena kalau kita langsung menaikkan suku bunga, tentu hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi,” jelas David Wirawan, SVP Finance AMAR.

Sebagai catatan, AMAR diketahui sebagai bank digital yang memiliki fokus segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan ritel, melalui platform Amar Bank Bisnis dan Tunaiku.

Hingga kuartal I 2026, AMAR menyalurkan 55% kredit untuk segmen UMKM, dengan 86% tercatat sebagai kredit produktif, serta 56% kredit untuk sektor riil.

“Kita harus balance, antara menyesuaikan suku bunga tersebut untuk keuntungan bank, namun juga bagaimana kita menyesuaikan juga dengan pertumbuhan ekonomi,” imbuh David dalam gelaran Paparan Publik 2026, Kamis (18/6).

Di sisi lain, setelah menyentuh modal inti Rp3 triliun pada 2022 lalu, AMAR mencatatkan capital adequacy rate (CAR) yang tinggi di level 99,2%, jauh lebih tinggi dari level CAR ideal yang dianjurkan otoritas di level 15-20%.

“Mungkin yang menjadi challenge buat kita adalah bagaimana kita me-leverage modal tersebut … minimum ada sekitar lima kali lipat yang bisa sebenarnya kita leverage,” ungkap David.

Namun, Benyamin Tampubolon, Special Project Retail Banking Function Head AMAR, menegaskan bahwa permintaan dan penyaluran kredit AMAR terus naik secara konsisten.

Meski demikian, AMAR lebih memilih pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan. “Kami tidak mengedepankan pertumbuhan at all cost … kami lebih baik bertumbuh dengan steady,” imbuhnya.

Seperti yang telah diberitakan IDNFinancials sebelumnya, AMAR berhasil membukukan pertumbuhan kredit 30,62% secara tahunan menjadi Rp4,16 triliun.

Namun, di tengah pelemahan kredit UMKM secara industri dan tingkat NPL yang tinggi di segmen tersebut, AMAR justru membukukan penurunan non-performing loan (NPL) yang cukup signifikan, dari 1,48% menjadi 0,86% pada kuartal I 2026.

Benyamin mengatribusikan penurunan NPL ini pada sistem credit scoring bank yang senantiasa diperbaharui mengikuti tren perilaku terbaru nasabah, serta komunikasi aktif dengan pelaku UMKM.

Selain itu, manajemen AMAR menyatakan akan terus memperhatikan dampak pelemahan rupiah terhadap aktivits impor-ekspor, yang berpotensi mempengaruhi nasabah UMKM-nya.

“Secara tidak langsung, kita akan terus berhati-hati, terutama untuk menjaga NPL bank supaya tetap aman,” tegas David. (ZH)