Yann LeCun ragukan masa depan xAI milik Elon Musk
Jumat, 19 Juni 2026
NEW YORK - Tokoh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Yann LeCun, mengkritik perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, dan menilai perusahaan tersebut sulit bersaing dengan OpenAI maupun Anthropic di lini terdepan pengembangan AI.
Dikutip dari CNBC, LeCun yang merupakan pendiri dari AMI Labs menyebut xAI sebagai "kegagalan" dan memperingatkan industri AI berisiko menghadapi gelembung besar apabila perusahaan-perusahaan AI tidak mampu menekan biaya operasional dan meningkatkan pendapatan.
Komentar tersebut menambah daftar perbedaan pandangan antara LeCun dan Musk terkait arah perkembangan AI.
LeCun, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala ilmuwan AI di Meta, mengatakan xAI sedang menghadapi tantangan besar karena sejumlah anggota tim pendirinya telah meninggalkan perusahaan.
"Sejujurnya, xAI bisa dibilang sebuah kegagalan karena tim pendirinya telah pergi," kata LeCun.
Menurutnya, Musk kini berada dalam posisi yang sulit untuk merekrut talenta terbaik di bidang AI.
Dalam setahun terakhir, beberapa pendiri xAI memang telah keluar dari perusahaan tersebut. Pada Februari 2026, Musk menggabungkan SpaceX dan xAI dalam transaksi yang menilai perusahaan gabungan itu sebesar US$1,25 triliun.
Pada kuartal II 2026, segmen AI SpaceX yang mencakup xAI membukukan rugi operasional sebesar US$2,5 miliar.
Sementara itu, AMI Labs berhasil menghimpun pendanaan sebesar US$1 miliar pada Maret lalu untuk mengembangkan teknologi yang dikenal sebagai "world models", dengan valuasi sebelum pendanaan mencapai US$3,5 miliar.
Tidak Terlalu Optimis
LeCun mengatakan xAI memiliki infrastruktur komputasi yang sangat besar dan sebagian kapasitasnya disewakan kepada perusahaan lain untuk membantu menutup biaya operasional.
Pernyataan tersebut merujuk pada pusat data Colossus 1 dan Colossus 2 milik xAI di Memphis. Sejumlah perusahaan, termasuk Google dan Anthropic, diketahui menyewa kapasitas komputasi di fasilitas tersebut.
Meski demikian, LeCun tetap pesimistis terhadap prospek jangka panjang xAI.
"Saya tidak terlalu optimistis terhadap prospek xAI," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa xAI kemungkinan akan kesulitan menyaingi dominasi OpenAI dan Anthropic di industri AI.
LeCun juga menyoroti tingginya biaya pengembangan dan operasional AI yang menurutnya mulai menjadi perhatian pelaku industri.
Menurutnya, meski tarif layanan AI meningkat, biaya operasionalnya masih terlalu besar sehingga bisnis tersebut belum sepenuhnya menguntungkan.
"Sebagian besar pengguna saat ini pada dasarnya masih disubsidi oleh investor. Kondisi seperti ini tidak bisa berlangsung selamanya," kata LeCun.
Ia memperingatkan perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic perlu menaikkan harga layanan atau memangkas biaya operasional untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Jika tidak, menurutnya, industri AI berisiko menghadapi "ledakan gelembung besar".
LeCun selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik keterbatasan model bahasa besar (large language models/LLM) yang menjadi fondasi utama banyak produk AI saat ini.
Sebagai alternatif, ia mendorong pengembangan teknologi "world models", yakni sistem AI yang dirancang untuk memahami cara kerja dunia nyata melalui hubungan sebab-akibat, objek, dan tindakan.
Menurut LeCun, sistem AI yang benar-benar andal dan mampu bertindak secara mandiri baru dapat terwujud jika dibangun menggunakan pendekatan tersebut.
Meski mengakui LLM masih sangat berguna untuk tugas seperti pemrograman dan matematika, LeCun menilai biaya pengoperasian teknologi tersebut saat ini masih terlalu tinggi dibandingkan nilai yang bersedia dibayar oleh pengguna. (ARF)