Bank sentral G10 bersiap naikkan suku bunga meski perang reda
Jumat, 19 Juni 2026
JAKARTA - Meredanya perang antara Amerika Serikat dan Iran serta penurunan harga minyak memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengendalikan inflasi. Namun, ancaman kenaikan harga yang lebih luas masih membuat sejumlah otoritas moneter negara maju bersiap memperketat kebijakan.
Seperti dikutip Reuters, empat bank sentral negara-negara G10 saat ini telah memasuki fase kenaikan suku bunga, sementara beberapa lainnya, termasuk Federal Reserve AS, menyatakan siap bertindak jika tekanan inflasi kembali menguat.
Bank Sentral Australia (RBA) memimpin dengan suku bunga acuan tertinggi di kelompok G10 sebesar 4,35% setelah tiga kali menaikkan suku bunga sepanjang tahun ini. Meski menahan suku bunga pada pertemuan terakhir, RBA membuka peluang kenaikan lanjutan apabila risiko inflasi meningkat.
Norwegia menyusul dengan suku bunga 4,25%. Norges Bank mempertahankan suku bunga pada Kamis, tetapi menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan tahun ini. Inflasi inti negara tersebut naik menjadi 3,4% pada Mei.
Di Inggris, Bank of England mempertahankan suku bunga di level 3,75%. Kendati demikian, bank sentral menilai terlalu dini untuk menyatakan ancaman inflasi telah berakhir. Pasar memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Perhatian investor tertuju pada Amerika Serikat setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan sembilan pejabat The Fed kini memperkirakan kenaikan suku bunga hingga akhir 2026.
Selandia Baru juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Juli. Bank sentral negara itu menghadapi dilema antara inflasi yang berpotensi melampaui target dan tingkat pengangguran yang berada di level tertinggi dalam satu dekade.
Sementara itu, Bank of Canada memilih mempertahankan suku bunga di level 2,25% karena belum melihat dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi secara luas. Inflasi Kanada masih bergerak dalam rentang target bank sentral.
Di kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) pekan lalu menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Langkah tersebut diambil untuk mencegah lonjakan biaya energi akibat perang Iran menyebar ke perekonomian kawasan euro. Suku bunga deposito ECB kini berada di level 2,25%.
Bank sentral Swedia mempertahankan suku bunga di level 1,75%, tetapi mengakui peluang kenaikan suku bunga tahun ini meningkat seiring bertambahnya tekanan inflasi akibat konflik di Timur Tengah.
Jepang mengambil langkah yang lebih agresif. Bank of Japan menaikkan suku bunga menjadi 1%, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut untuk mengendalikan tekanan harga sekaligus menopang yen yang masih lemah.
Berbeda dengan mayoritas negara G10, Swiss mempertahankan suku bunga di level 0%, terendah di antara negara-negara maju. Bank Sentral Swiss menilai tekanan inflasi jangka menengah masih terkendali meski harga bahan bakar sempat meningkat akibat konflik Iran.(DH)