Tiga supertanker Saudi tembus Hormuz usai AS dan Iran berdamai
Jumat, 19 Juni 2026
JAKARTA - Tiga supertanker berbendera Arab Saudi yang mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang antara kedua negara.
Seperti di kutip Reuters, data pelacakan kapal menunjukkan ketiga tanker tersebut berlayar melalui jalur pelayaran strategis itu pada Kamis. Kapal-kapal tersebut kembali menyiarkan posisi mereka setelah selama beberapa pekan menyembunyikan pergerakan dengan mematikan sistem transponder di tengah konflik.
Berdasarkan analisis pergerakan kapal Reuters, jumlah keberangkatan tanker dari pelabuhan Arab Saudi yang melewati Selat Hormuz merupakan yang tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Selama konflik berlangsung, Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di OPEC lebih banyak mengandalkan terminal ekspor Yanbu di Laut Merah untuk mengirim minyak mentah.
Penutupan efektif Selat Hormuz menghambat pengiriman ratusan juta barel minyak dari pelabuhan-pelabuhan Teluk dan menekan ekspor negara-negara produsen di kawasan.
Ketiga tanker tersebut dikelola oleh perusahaan pelayaran Saudi Bahri.
Tanda-tanda pemulihan lalu lintas energi juga terlihat di Uni Emirat Arab. Data pelacakan Kpler menunjukkan tiga kapal tanker minyak sedang memuat kargo di sekitar pelabuhan Fujairah, sementara dua di antaranya telah berlayar menuju Eropa.
Fujairah sebelumnya menjadi salah satu fasilitas energi yang terkena serangan Iran dalam konflik yang dimulai pada 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Pemulihan arus pelayaran juga terlihat dari pergerakan kapal tanker Aframax berbendera Hong Kong, Tong Lin Wan, yang berhasil melintasi Selat Hormuz setelah berada di kawasan Teluk sejak awal Maret. Kapal tersebut sebelumnya memuat nafta dari Kilang Ruwais di Abu Dhabi.
Sementara itu, kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Mraikh yang dikendalikan QatarEnergy juga melintasi Selat Hormuz. Kapal tersebut memuat LNG di Ras Laffan pada 12-13 Juni dan dijadwalkan mengirimkan muatan ke Port Qasim, Pakistan.
Meski aktivitas pelayaran mulai meningkat, pelaku industri pelayaran dan asuransi masih menunggu kepastian lebih lanjut terkait implementasi kesepakatan antara Washington dan Teheran.
INTERTANKO, organisasi yang mewakili pemilik kapal tanker independen dunia, menegaskan industri membutuhkan kejelasan mengenai keamanan navigasi, termasuk proses pembersihan ranjau laut dan publikasi wilayah yang masih berisiko.
"Kapal-kapal harus dipastikan bahwa mereka tidak akan lagi menjadi sasaran serangan".
Direktur Pelaksana INTERTANKO Tim Wilkins mengatakan sebagian kapal memang akan mulai kembali beroperasi.
"Tentu saja, beberapa kapal akan mulai bergerak. Itu wajar."
Kepala Eksekutif Lloyd's Market Association Sheila Cameron menambahkan bahwa pelaku industri juga membutuhkan kepastian terkait sanksi, regulasi anti-terorisme, serta biaya pelayaran.
"Jalan menuju pemulihan di Teluk akan panjang dan rumit."
Menurut Cameron, normalisasi aktivitas pelayaran internasional tidak akan terjadi dalam waktu singkat karena posisi kapal dan rantai pasok global masih terdampak konflik.
"Dibutuhkan waktu berbulan-bulan agar keadaan kembali normal di sektor pelayaran internasional, mengingat kapal-kapal berada di tempat yang salah dan rantai pasokan terganggu."(DH)