Perang Iran dorong penjualan mobil listrik Eropa melonjak 34%

Jumat, 19 Juni 2026

image

JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran mendorong lonjakan permintaan mobil listrik baru dan bekas di Eropa.

Data industri yang diperoleh Reuters menunjukkan peningkatan signifikan dalam registrasi EV di sejumlah pasar utama, meski pelaku industri memperingatkan tren ini bisa melambat jika harga bensin kembali turun.

Perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran memang telah disepakati, namun gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz membuat harga energi diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Seperti dikutip Reuters, data dari New Automotive dan E-Mobility Europe, menunjukkan registrasi mobil listrik baru naik 34% secara tahunan pada Mei di 17 pasar yang mencakup lebih dari 90% penjualan mobil di Uni Eropa dan EFTA. Mobil listrik murni kini menyumbang hampir satu dari empat registrasi kendaraan baru di wilayah tersebut.

CEO Renault, Francois Provost, mengatakan permintaan EV meningkat tajam di beberapa negara.

"Pesanan kendaraan listrik Renault telah meningkat sebesar 50% di beberapa negara sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari," ujarnya kepada Reuters.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan tersebut bisa melemah jika harga bahan bakar turun.

Pihak Ford di Eropa juga mencatat peningkatan minat konsumen, meski tidak melihatnya sebagai perubahan permanen.

"Kepala Ford Eropa, Jim Baumbick, mengatakan perang tersebut telah 'meningkatkan minat pelanggan' pada kendaraan listrik, tetapi memperingatkan agar tidak menganggapnya sebagai perubahan yang permanen."

Pasar EV Bekas menguat

Selain pasar mobil baru, permintaan mobil listrik bekas juga meningkat seiring bertambahnya pasokan dari kendaraan baru yang lebih murah.

Produsen mobil asal Tiongkok turut mempercepat ekspansi di Eropa dengan menghadirkan model berbiaya lebih rendah. BYD (002594.SZ) meluncurkan Dolphin G di Berlin sebagai bagian dari strategi ekspansi tersebut.

"Minat konsumen terhadap kendaraan listrik jelas dipicu oleh mobil-mobil buatan China yang murah dan berkualitas sangat baik yang memasuki pasar," kata Andy Palmer, mantan eksekutif Nissan.

Platform penjualan mobil bekas OLX mencatat lonjakan lebih dari empat kali lipat dalam prospek penjualan mobil listrik merek China di Prancis pada Mei.

Di Jerman, platform Carwow menyebut minat terhadap EV telah stabil di kisaran 70% hingga 75%, naik dari sekitar 40% awal tahun ini.

"Perkembangan ini telah lama berevolusi dari efek jangka pendek menjadi tren berkelanjutan," kata Philipp Sayler von Amende, Managing Director Carwow Germany.

Harga mobil listrik bekas juga mulai menguat setelah sempat turun akibat pemotongan harga Tesla pada 2023. Di Denmark, platform Bilbasen memperkirakan harga EV bekas akan naik sekitar 10% tahun ini.

Di Inggris, mobil listrik berusia dua hingga empat tahun dijual sekitar 33% dari harga awalnya, dibandingkan 52% untuk mobil berbahan bakar fosil, menurut Cox Automotive.

"Pasar seharusnya akan stabil," kata Philip Nothard dari Cox Automotive. "Saya sangat ragu kita akan melihat penurunan."

Ia menilai meningkatnya pasokan mobil listrik baru dan bekas akan menjaga permintaan tetap kuat meski harga bahan bakar mulai stabil.(DH)